THE NEURO-LOGICAL LEVEL IN FINDING YOUR TRUE SELF

Saya menuliskan artikel ini demi menjawab pertanyaan seorang sahabat yang sedang bingung dalam pencarian jati dirinya. Beliau ini termasuk yang sering ikut kelas-kelas pemberdayaan diri. Namun sayang, sepertinya ada serpihan (chunk) informasi yang tidak lengkap sehingga seolah-olah baginya “diri sejati” adalah sesuatu yang masih blur atau mengambang. Tentu hal ini bisa membahayakan sebab akan dapat menyebabkan kegamangan diri.

Biasanya para guru memberikan pertanyaan provokatif berupa :

“siapa dirimu?”

Lalu si murid menjawab :

“saya Aji”

Dan dilanjut dengan pertanyaan :

“Aji itu kan namamu, kamu siapa?”

Nah, kira-kira jika ditanya seperti ini bingung tidak? Bisa jadi tidak jika si guru memberikan jalan keluar berupa penjelasan-penjelasan detil dan masuk akal. Tetapi seringkali justru si murid diajak untuk berputar-putar dahulu dan belajar teknik kontemplasi, meditasi dsb tanpa memberikan solusi praktis yang bisa diaplikasikannya. Pikiran bisa jadi menipu meskipun anda berada di kondisi meditatif sekalipun. Kegamangan terjadi jika sinaps-sinaps bekerja secara tidak nalar / mengikuti alur logika yang tidak mendasar sempurna.

Melalui pendekatan yang sederhana, saya berikan sebuah ilustrasi. Anggap anda sedang berjalan di sebuah taman. Lalu anda menyaksikan dua orang yang sedang bekerja disitu. Sebut saja namanya si A dan si B. Si A menggali lobang, lalu si B menutup (menimbun) lobang itu. Pekerjaan ini dilakukan secara persisten dari sisi taman yang satu ke sisi lainnya. Sebagai orang yang menyaksikan pekerjaan ‘aneh’ tersebut, anda mungkin bingung kan? Kenapa lobang yang digali kemudian ditimbun lagi tanpa diapa-apakan. “Anda bertanya, kenapa A menggali lobang lalu B menimbunnya, dan demikian terus berulang-ulang di sepanjang taman ini?” mungkin seperti itulah pertanyaan anda. Jawab si A, “karena kami profesional!”. Nah, tambah heran kan. “Profesional bagaimana maksudnya?” tanya anda kembali. “ya, saya ini A adalah penggali lobang. Job description saya adalah menggali lobang berukuran 1×1 meter dengan kedalaman satu meter. Sedangkan teman saya si B, adalah si penimbun lobang, tugasnya secara persis adalah menimbun lobang yang saya buat”.

Anda makin heran. “iya, tapi untuk apa?

Barulah A menjawab, “sesungguhnya ada satu orang lagi yang bernama si C. Ia bertugas menanam pohon pada lobang yang saya gali. Kebetulan hari ini ia tidak masuk dikarenakan harus menjaga anaknya yang sakit. Tetapi kami tetap harus bekerja sebab kami diupah secara harian”.

Nah ternyata si A dan si B ini sangat kaku dalam memahami arti identitas / jati diri. Baginya jati diri adalah sesuatu yang mutlak dan secara profesional harus melakukan sesuai job description-nya. Menurut anda, siapa yang salah jika begitu? Memang benar mereka telah melakukan pekerjaan sesuai identitas diri mereka. Namun hasil akhir (outcome) dari pekerjaan tersebut tidaklah tercapai yaitu tertanamnya pohon.

Ada satu konsep yang diperkenalkan oleh Robert Dilt yang disebut model Neuro-Logical Level. Neuro-Logical Levels merupakan suatu model yang diadaptasi oleh Robert Dilts (salah seorang developer NLP) dari buah pemikiran Gregory Bateson (anthropologist Inggris) mengenai “Logical Levels” yang intinya menyatakan bahwa dalam pembelajaran, perubahan, dan komunikasi terdapat hirarki atau tingkatan dari klasifikasi.

Jika digambarkan seperti piramida, model tersebut adalah seperti ini :

NLL 42017

Menurut Dilt, puncak tertinggi dari piramida ini adalah Spiritual. Dalam konteks individu spiritual adalah segala sesuatu tujuan yang berkaitan dengan agama, keyakinan dan spiritualitas. Spiritual disebut juga sebagai purpose atau beyond identity connection. Dalam konteks berorganisasi disebut sebagai visi dan misi organisasi. Level ini untuk menjawab “untuk apa / siapa keberadaan diri (organisasi) ini”. Cara paling sederhana dalam menanyakannya adalah, “jika aku mati, aku ingin dikenang / dikenal oleh khalayak sebagai apa / siapa?” atau, “aku ingin orang mengenalku sebagai siapa (atau bagaimana)?”. “Untuk siapa semua yang saya kerjakan ini”?. Hak anda untuk menjawab apa saja, namun ikuti dorongan hati nurani anda. Apakah benar anda ingin dikenal sebagai sosok tersebut?. Jangan-jangan berasal dari shadow karena adanya sisi diri yang haus akan pengakuan, bukan sebagai suatu bentuk pemenuhan panggilan diri.

Di level kedua ada yang disebut sebagai Identity. Level ini untuk menjawab pertanyaan “siapa saya”. Dalam konteks perusahaan atau organisasi ini disebut sebagai identitas perusahaan/organisasi. Dalam konteks pribadi disebut citra diri.

Untuk membantu untuk mencari tahu identity, tanyakan:

  • Menurut Anda siapa diri Anda?
  • Bagaimana Anda menjelaskan tentang diri Anda?
  • Bagaimana orang lain menjelaskan mengenai diri Anda?

Di level ketiga ada yang disebut sebagai belief dan values (keyakinan dan nilai-nilai). Value adalah apa yang penting dalam diri seseorang. Apa yang penting bagi seseorang belum tentu memiliki arti penting yang sama bagi orang lain. Contoh value dalam diri seseorang: agama, keluarga, finansial, pendidikan, persahabatan, nama baik, popularitas, ketentraman, ketenangan, kenyamanan, kesuksesan, kekayaan dsb. Apa urutan pertama dalam diri seseorang akan menentukan fokus terbesar dalam dirinya. Selain itu value juga merupakan motivator terutama dalam hidup seseorang. Sebagai contoh, apabila value yang pertama dalam hidup seseorang adalah keluarga, maka keluarga merupakan motivator terutama dalam hidupnya. Apapun akan dilakukannya pasti ditujukan untuk kebahagiaan dan kebaikan keluarganya karena keluarga merupakan sumber motivasinya yang terutama, yang juga adalah value utama dalam hidupnya.

Sedangkan belief adalah apa yang diyakini oleh seseorang sebagai kebenaran. Belief bukanlah keyakinan dalam konteks agama. Keyakinan dalam konteks agama kita sebut sebagai conviction sebagai keyakinan dogmatis yang tak perlu diganggu gugat. Yang terpenting dari belief bukanlah benar atau salah, melainkan berguna atau tidak berguna. Keyakinan yang berguna adalah keyakinan yang menambah sumber daya dirinya untuk mencapai tujuannya. Sedangkan keyakinan yang tidak berguna adalah keyakinan justru malah menghambat diri untuk mencapai tujuan tersebut. Keyakinan ini sifatnya subyektif atau individual alias hanya berlaku untuk perilakunya sendiri.

Misal seseorang yang ingin punya rumah memiliki keyakinan bahwa adalah hal memalukan jika masih menumpang dengan orang tua. Maka keyakinan ini menggerakkan perilakunya dalam berupaya mewujudkan tujuannya untuk memiliki rumah pribadi. Sebaliknya jika ia menganggap bahwa bakti seorang anak adalah salah satunya dengan mengurusi orangtuanya. Ditambah keyakinan bahwa cara termudah untuk mengurus orangtua adalah dengan berada dekat orangtua (tinggal serumah). Keyakinan ini tidak mendorong perilaku untuk mewujudkan keinginan memiliki rumah, dan justru akan memberatkan langkahnya untuk tinggal jauh dari orangtua.

Level belief dan values ini menjawab pertanyaan “Kenapa?”, dan memberikan arahan mana yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Dalam organisasi / bisnis, ini adalah aturan main (SOP) yang harus dipatuhi.

Ketika anda memutuskan melakukan sesuatu yang positif, coba tanyakan “kenapa saya lakukan ini?” lalu jawablah dengan sejujur-jujurnya sesuai kata hati anda.

Di level ketiga adalah capabilities (kemampuan). Level ini menjawab pertanyaan “Bagaimana?”, apa yang mampu kita lakukan di konteks tertentu. Dalam organisasi / bisnis merupakan suatu prosedur / proses bisnis yang disepakati. Kapabiltas ini menyangkut keterampilan dan pengetahuan (skill and knowledge) yang harus dimiliki untuk bisa melakukan sesuatu dalam mencapai tujuannya.

Di level keempat adalah behavior atau perilaku. Ini adalah bagian yang bisa disaksikan secara inderawi oleh orang lain.

Dan di level kelima adalah Environment atau lingkungan merupakan salah satu faktor penentu sukses tidaknya seseorang. Lingkungan dapat berupa orang-orang yang sering kita luangkan waktunya bersama atau benda-benda yang paling menyita waktu kita, misalnya: TV, gadget, dsb. Apa atau dengan siapa kita paling sering meluangkan waktunya bersama akan mempengaruhi diri kita baik secara positif maupun negatif, tergantung apa yang di install. Hal ini dapat terjadi karena interaksi kita dengan orang atau benda-benda seperti tersebut di atas akan mempengaruhi diri kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada ungkapan yang menarik bahwa  “Lima orang yang sering kita temui akan membentuk diri kita seperti mereka”. Misalnya: lima orang yang sering kita luangkan waktunya bersama adalah pengusaha maka kemungkinan besar kita mirip-mirip seperti mereka, namun apabila lima orang yang sering kita luangkan waktunya bersama adalah pengangguran, maka kita juga akan mirip-mirip dengan mereka. Oleh karena itu, pastikan Anda berada dalam lingkungan yang tepat dan mendukung perkembangan diri Anda.

Model Neuro-Logical Level piramida ini tidak selalu disepakati oleh para pakar NLP lainnya. Ada yang menggambarkannya seperti ini :

anothe type of NLL

Juga ada yang menggambarkan sebagai suatu hubungan sejajar yang saling mempengaruhi. Mengenai model tidaklah menjadi masalah, namun perlu kita cermati bahwa pada intinya untuk membentuk suatu jati diri melibatkan semua unsur ini : spiritual, identity, belief and values, capabilities, behavior dan environment. Jadi yang membentuk jati diri melibatkan semua hal baik yang bersifat kasat mata maupun yang berada di area pikiran.

Pertanyaan menarik berikutnya adalah, “apakah jati diri diciptakan atau ditemukan?

Pendapat pertama mengatakan jati diri ditemukan. Sebab seseorang harus merasakan panggilan jiwanya terlebih dahulu. Namun sayang pendapat ini seringkali tidak rasional dan cenderung menciptakan kegamangan karena ‘menunggu panggilan jiwa’ yang entah kapan.

Pendapat kedua mengatakan jati diri adalah diciptakan. Sesuai dengan dogma bahwa anda adalah khalifah dimuka bumi, yang dengan demikian berarti tanggung jawab hidup anda ada di tangan anda sendiri. Pernyataan ini bisa dijabarkan dengan kalimat sederhana : anda bebas memilih untuk menjadi apa/siapa saja yang anda inginkan secara sadar.

Kesimpulannya, bagaimana menciptakan jati diri anda? Menurut konsep Neuro-Logical Level ini maka yang perlu anda lakukan adalah :

  1. Pertama-tama, kenali dengan mengajukan pertanyaan ini “ketika saya meninggal dunia nanti, saya ingin dikenang sebagai apa?
  2. Kedua, ajukan pertanyaan “kira-kira bagaimana saya menjelaskan diri saya kepada orang lain?” atau, “kira-kira orang lain akan menjelaskan diri saya sebagai sosok siapa?”
  3. Pertanyaan ketiga adalah, “kenapa saya ingin mencapai ini?” “apa alasan terjujurnya?” dan “kenapa ini penting buat saya?”
  4. Pertanyaan keempat, “bagaimana saya melakukannya?” dan “apa saja yang perlu saya siapkan untuk bisa melakukannya / menjalaninya?
  5. Pertanyaan kelima, “perilaku seperti apa yang perlu saya kembangkan untuk mendukung tujuan ini?”, “bagaimana seharusnya saya terlihat, terdengar dan dirasakan (disaksikan) oleh …………………. (malaikat / orang lain / Tuhan saya), sebagai tanda bahwa saya benar-benar di jalan ini?”
  6. Pertanyaan keenam, “seharusnya dimanakah saya berada untuk memperkuat jati diri ini?” atau “dimanakah saya harus berada agar dapat menjalankan peran ini?”

Jujurlah terhadap diri anda sendiri, semoga berhasil menjadi diri anda sendiri yang sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Jika anda masih kesulitan dalam mencapainya, bisa jadi anda masih membutuhkan terapi untuk bisa mengatasi trauma di masa lalu atau urusan-urusan yang belum selesai dalam hidup anda.

 

 

Iklan