Mekanisme Fight dan Flight serta Hubungannya Dengan Monkey Mind

Di dalam tubuh manusia terdapat sistem syaraf simpatik dan syaraf parasimpatik. Ketika manusia sedang berhadapan dengan kondisi yang menekan atau membahayakan dirinya maka sistem syaraf simpatik akan bekerja memproduksi hormon yang memobilisasi energi dalam menghadapi situasi yang dianggap berbahaya (adrenalin). Sedangkan syaraf parasimpatik berguna untuk mengembalikan kondisi tegang ini ke kondisi normal.

Ketika  hormon adrenalin ini mulai akan dipompa, tentu ada mekanisme neurologis yang menyertai terlebih dahulu, yang berawal dari kewaspadaan dan “sinyal” dari otak yang memicu reaksi stress, antara lain; ketegangan dan perasaan cemas. Di sisi lain, ternyata ancaman terhadap kehidupan manusia modern saat ini bukan semata ancaman fisik seperti yang terjadi pada nenek moyang manusia di jaman purbakala, namun banyak ancaman yang bersifat psikologis. Ancaman psikologis ini seringkali tidak disadari oleh pikiran sadar karena sifatnya yang non fisik, namun memicu reaksi yang sama pada diri manusia. Ancaman psikologis ini antara lain :

  • Ketidakpastian hidup, akibat dari semakin tidak menentunya kondisi saat ini baik secara ekonomi, politik, gegar budaya, perubahan paradigma yang membuat manusia seolah hidup dalam ketidakpastian
  • Kehampaan pemahaman dan pemaknaan tujuan hidup (spiritualitas), yang ditandai dengan perasaan takut mati, takut kehilangan, overprotective terhadap diri, keluarga dan materi, serta tingginya tingkat gangguan kecemasan (anxiety disorder)
  • Kurangnya kecakapan dalam pengelolaan emosi. Kecakapan ini merupakan tools / perangkat yang selayaknya membantu manusia dalam menghadapi hidup yang dijalani

Apa yang terjadi ketika ancaman ini datang dan bertubi-tubi? Umumnya, segala sesuatu yang biasa terjadi akan berpindah ke area unconscious, sehingga manusia tidak sadar akan sesuatu yang harus disadari namun larut di dalamnya. Kita seringkali tidak menyadari adanya ancaman ini karena terbiasa hidup dalam ketidaknyamanan pikiran atau tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai ilmu kejiwaan. Meskipun demikian, sadar ataupun tidak sadar, kondisi ini tak ayal senantiasa menekan kejiwaan kita.

Mekanisme fight adalah mekanisme pertahanan diri yang melawan ancaman terhadap keselamatan dirinya. Sedangkan mekanisme flight bekerja ketika dirinya merasa tidak mampu melakukan fight, atau tidak tahu apa yang dilawan.

Ketika ancaman tersebut bukan sesuatu yang fisik atau tidak jelas (abstrak), maka apa yang dilawan? Sehingga syaraf parasimpatik (baca = pikiran bawah sadarnya) memindahkan diri dari mode fight ke mode flight. Mode flight ini adalah berupa penyangkalan, pelarian, menghindari masalah, melamun, depresi, pelampiasan,  suka ketergesa-gesaan, suka menunda, hilang gairah hidup, memunculkan sakit psikosomatis dan beragam mode flight lainnya yang pada intinya karena pikiran tersebut tidak terlatih untuk menghadapi dengan cara penerimaan dan tidak menilai (terjebak pada persepsi dualisme), atau singkatnya karena tidak terlatih untuk mindfulness.

Pikiran yang melompat-lompat (monkey mind) adalah salah satu indikasi ketidakterlatihnya atau ketidakterkendalinya pikiran untuk senantiasa berada di sini, di saat ini secara utuh dan hadir penuh. Monkey mind adalah wahana bagi pikiran untuk senantiasa flight. Semakin bertambah usia biasanya akan semakin sulit bagi seseorang untuk bisa menjaga rasa khusyu’ dan fokus. Pikiran menjadi lebih mudah melompat-lompat. Hal ini wajar untuk dipahami jika mengingat semakin banyak dan beratnya beban hidup yang membuat reaksi flight ini makin menjadi. Namun sesungguhnya bukan karena banyak atau beratnya beban hidup yang membuat reksi flight ini senantiasa bekerja melainkan karena ketidakcakapan emosi dalam menyikapi masalah dan tidak mengimbangi diri dengan kemampuan manajemen diri yang handal.

Oleh sebab itu, slaah satu upaya belajar pengendalian diri dan kecakapan emosi adalah dengan belajar mencapai kondisi mindfullness. Mindfullness bukanlah pikiran yang senantiasa tegang dan waspada, melainkan kondisi pikiran yang nyaman dan sadar penuh serta hadir utuh disini dan di saat ini. Tujuannya tentu agar cakap dalam ketenangan dan kejernihan berpikir. Supaya mampu melakukan mindfullness tersebut maka diperlukan sikap  mental yang :

  1. Tidak menilai (tidak buru-buru memberi persepsi atas suatu keadaan). Ketika kita terlalu melekat untuk mempersepsikan suatu keadaan sebagai positif maka kita pun akan ngoyo untuk mencapainya, demikian juga ketika kita melabeli suatu keadaan sebagai negatif, maka kita akan menolak dan seakan tidak boleh mengalami kejadian tersebut. Misal seseorang yang menganggap kematian sebagai musibah maka ia menjadi tidak nerimaan ketika salah satu kerabatnya harus berpulang. Bahkan ia sendiri mengidap sakit takut mati, dan mencintai keduniawian (merasa tidak boleh rugi, kikir, tidak amanah, serakah dll). Disini kita berlatih untuk netral. Jauh lebih penting hikmah dibalik kejadian tersebut dibanding larut dalam penilaian positif atau negatif.
  2. Tidak melekat (tidak ngoyo untuk mencapai atau menghindari sesuatu, tidak takut kehilangan). Tawakal, sabar, syukur, ikhlas dan qonaah yang mengimbangi ikhtiar dalam menjalani kehidupan.

Ciri pikiran yang mindfullness adalah tidak kuatir akan masa yang akan datang, tidak dihantui oleh pikiran atas segala sesuatu yang terlanjur terjadi, tenang, nyaman dan damai. Mindfullness tidaklah termasuk baik sebagai fight ataupun sebagai flight, melainkan mekanisme lain yang disebut sebagai coping mechanism (mekanisme koping), yaitu kemampuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri bahkan melampaui keadaan.

Sebagaimana dikatakan seorang bijak, kecerdasan seseorang bukanlah ketika ia benar-benar mampu memilah hitam dan putih, melainkan saat ia melambung tinggi dan melihat antara hitam dan putih itu telah membaur menjadi satu warna.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s