Seberapa Mahal Harga Pelatihan Pemberdayaan Diri?

Saya menuliskan artikel ini sebagai respon dari pernyataan banyak orang dalam menanggapi adanya biaya pelatihan pengembangan diri, misal hipnosis, NLP dan sebagainya. Bahkan ada yang berujar “semua ilmu milik Allah, kenapa diperjualbelikan?” Ada juga yang berpendapat, “nabi saja tidak menjual ilmu agamanya…” dan banyak pula yang membandingkan dengan pengajaran ustadz-ustadz yang ada sama sekali tidak meminta bayaran.

Menanggapi pendapat-pendapat tersebut di atas saya sering tersenyum geli. Seringkali saya bercandain “ya kan para trainer pemberdayaan diri mendapatkan ilmunya bukan dari hasil menerima wahyu yang disampaikan Jibril secara gratis, mereka harus susah payah menggali dari banyak referensi, mengikuti pelatihan demi pelatihan dan dimentor oleh trainer-trainer yang lebih pengalaman. Itu semua pake duit lho”

Artinya apa? Untuk belajar suatu metode pemberdayaan diri tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Kenapa? Mungkin kalau hanya dengan membaca buku saja tidak akan begitu mahal, tetapi seringkali ilmu tersebut berupa soft skill yang harus dilatihkan terlebih dahulu agar dapat dilakukan secara benar-benar benar. Nah repot kan?

Yang kedua, semua ilmu di muka bumi memang milik Allah. Termasuk ilmu manajemen, ilmu kepemimpinan, ilmu strategi, ilmu komunikasi, ilmu pertahanan, ilmu sosial, ilmu psikologi dll. Namun untuk merumuskan keilmuan tersebut membutuhkan metodologi penelitian dari tahun ke tahun seumur peradaban manusia. Untuk menggali dan meneliti suatu ilmu agar mengikuti filsafat ilmu yang merujuk pada kaidah epistemologi, aksiologi dan ontologi. Penelitian yang dilakukan tentu menghabiskan banyak waktu dan biaya. Waktu sama dengan umur si ilmuwan yang terpakai. Sementara di sisi lain, realita kehidupan menuntut terpenuhinya kebutuhan pokok.

Yang ketiga, ilmu yang berharga adalah ilmu yang dihargai. Jika ilmu pemberdayaan diri yang diberikan dianggap sebagai sumber daya untuk menjalani kehidupan maka sudah sepantasnya dihargai secara layak. Apalagi jika ilmu tersebut berupa keterampilan atau soft skill dalam melakukan sesuatu. Apalagi lagi jika ilmu yang dipelajari tersebut dapat bernilai secara ekonomis misal pelatihan public speaking, pelatihan negosiasi, pelatihan persuasi dsb, maka sudah sangat-sangat wajar mendapat harga yang layak. Banyak keterampilan yang anda tidak cukup dengan hanya baca buku saja, melainkan ada seorang coach atau trainer yang membimbing anda melakukan hal tersebut.

Yang keempat, letak sisi etisnya ketika anda meminta pengajaran namun tidak disertai etika atau adab belajar? Saya pernah dikirim SMS siang dan malam tanpa henti dari satu orang dari kota Medan yang mendesak saya menjabarkan banyak hal. Saya katakan dengan tegas mohon maaf saya tidak ada waktu. Konteks yang terjadi saat itu adalah saya sama sekali tidak mengenal yang bersangkutan, si ibu hanya mengenal saya lewat internet. Saat saya menolak menjelaskan dikarenakan sangat tidak mungkin menjelaskan sesuatu yang perlu penjelasan panjang melalui SMS, si ibu malah mencaci-maki saya. Hebatnya lagi, walau hari ini mencaci eh besoknya si ibu kirim SMS lagi dengan serentetan pertanyaan. Jika anda menjadi saya, maukah bersabar menghadapi yang demikian? Alhamdulillah jika iya, tetapi setidaknya berpikirlah secara empatik.

Yang kelima, menjadi trainer adalah suatu profesi yang dituntut kecakapan dan sertifikasi. Profesi adalah cara seseorang mencari penghidupan. Adakalanya si Trainer mensedekahkan ilmu dengan cara sharing gratis melalui internet atau media sosial. Kadangkala juga diminta mengisi acara amal. Namun ada kalanya juga sisi ekonomis dipertimbangkan, karena kenyataannya memang seperti itu.

Dan yang paling penting adalah mengerti batasan. Jika anda minta ilmu gratis silakan berteman, mengikuti grup whatsapp atau telegram atau minta sesi gratis. Tetapi pastinya tidak semua bisa digratiskan. Sama seperti ketika saudara anda punya kebun, anda mungkin kebagian rejeki mencicipi hasil panennya, namun tak akan mungkin anda mengambil habis-habisan semua hasil panennya tanpa adanya prinsip pertukaran atau simbiosis mutualisme.

Mari sama-sama bersikap dewasa dan saling menghargai. Ingat njer besuki mawa bea

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s