NLP Lebih Fokus Pada Struktur, Bukan Konten

NLP itu mempelajari “structure of subjective exeperience”, atau struktur pengalaman subjektif. Oleh sebab itu, yang ditelusuri oleh praktisi NLP adalah pola-pola perilaku, bukan penyebab dari perilaku tersebut. Struktur pengalaman subjektif ini mungkin akan memiliki makna yang berbeda-beda dalam benak bawah sadarnya. Untuk menjelaskan gagasan di atas, silakan baca baik-baik ilustrasi berikut :

Teman            : “saya kesal dengan Andi kemarin”

Saya               : “bagaimana persisnya Andi membuatmu kesal?”

Teman            : “Ia ngomong yang tidak enak, katanya saya kurang semangat”

Saya               : “yang saya ingin tahu sebenarnya bagaimana cara ia mengatakan kata-kata tersebut, bukan kata-katanya”

Teman            : (terlihat bingung)

Saya               : “masih ingat ekspresi, mimik muka, intonasi suara atau bahasa tubuhnya?”

Teman            : “saya masih belum nyambung nih”

Saya               : “kalau saya yang ngomong kamu kurang semangat, kamu kesal juga nggak”

Teman            : “nggak juga sih, biasa aja malah”

Saya               : “jadi apa yang memicu perasaan kesalmu?”

Teman            : “ih iya,.. yang paling ngeselin itu mimik mukanya itu lho..mana ngomongnya depan orang banyak”

Saya               : “Oke, kalau gitu bayangin aja dia ngomong depan kamu tetapi mukanya memelas minta kasihan, atau seperti gayanya Dono Warkop.. “

Teman            : (mengikuti apa yang saya minta)

Saya               : “masih kesel?”

Teman            : “masih sih, sedikit..”

Saya               : “yang punya bayangan tentang mimik muka Andi yang ngeselin siapa?”

Teman            : “punya saya sih”

Saya               : “ada di dalam pikiran siapa?”

Teman            : “ada dalam pikiran saya”

Saya               : “kenapa nggak dibuang aja pikiran itu? Anggap sebagai angin lalu yang berhembus cepat dan hilang”

Teman            : (tersenyum) “iya ya.. sudah..tapi tetep aja masih ada rasa keselnya dikit”

Saya               : “yang mengendalikan pikiran siapa?”

Teman            : “saya sendiri”

Saya               : “lalu kenapa masih ada di dalam pikiranmu kalau yang mengendalikan pikiran itu kamu sendiri?”

Teman            : “saya sendiri”

Saya               : “kalau kamu yang mengendalikannya kenapa masih ada rasa keselnya?”

Teman            : “iya sudah, tapi masih ada sisa sedikit rasa kesel”

Saya               : “memang sengaja mau disisain?”

Teman            : “(tertawa geli).. nggak kok, sekarang sudah hilang”

Melalui pemahaman bahwa NLP mempelajari struktur pengalaman subjektif dan dengan mengubah strukturnya maka intensitas emosi yang menyertainya akan memudar. Mengubah struktur ini dengan cara menghapus, menggeneralisir dan mengaburkan bagian dari pengalaman yang mengganggu tersebut tanpa mengotak-atik konten atau isi dari pengalaman tersebut. Oleh sebab itu NLP memandang bahwa setiap orang memiliki tanggungjawab diri masing-masing untuk bagaimana meraih outcome yang diinginkan dengan memilih atau mengedit apa yang harus dipikirkannya ketika pikiran tersebut muncul.

Pengalaman lain membantu klien dengan NLP adalah, pernah seorang teman lama saya meminta bantuan mengatasi trauma akibat lakalantas yang dialaminya bersama keluarga. Ia mengaku masih takut untuk membawa kendaraan lagi di jalan raya. Saya katakan seperti ini “peristiwa tetaplah peristiwa yang tidak akan diubah, namun kita bisa melakukan penerimaan diri dengan menerima peristiwa traumatik justru bukan dengan menghindarinya”. Ia pun bengong mendengar penuturan saya tersebut. “Kamu bisa menerima peristiwa itu, memaafkan apa yang telah terjadi dan ketika peristiwa itu muncul di pikiranmu, maka posisikan dirimu sebagai penonton disitu, bukan berada di belakang setir saat kejadian lakalantas. Anggap dirimu sedang berdiri di seberang jalan dan mengamati kejadian tersebut dari kejauhan”. Ia mengangguk-angguk paham. “nah, apakah emosi yang menyertai peristiwa ini muncul?”, ia menjawab takjub, “tidak”. Mudah kan?

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s