Belajar NLP Kok Sombong?

Kenapa harus sombong kalau sudah belajar NLP? Praktisi NLP harusnya sadar bahwa metode NLP ini muncul dari hasil meniru. Hah..?!!! Kok meniru? Iya dong.. kan semua trainer NLP pun tahu bahwa founder NLP; John Grinder dan Richard Bandler meniru (=memodel) terapi yang dilakukan oleh Virginia Stair, Fritz Perls dan Milton H. Erickson. Melakukan modelling adalah mengakui bahwa ada yang melakukan terlebih dahulu dan berhasil, lalu oleh si peniru diamati dan dipelajari polanya, ulangi dan temukan bagaimana model tersebut bisa berhasil. Salah satu presuposisi dalam NLP adalah “Jika seseorang bisa melakukannya, maka orang lain pun bisa, asalkan mau mempelajari struktur perilaku bagaimana seseorang melakukan hal tersebut”

Namun memodel bukanlah urusan sepele, bukan sesuatu yang asal jiplak dengan mudah begitu saja. Ada metodologi yang dilakukan sehingga perilaku yang dimodel tersebut bisa dirumuskan. Milton Erickson pun mengatakan, “Meskipun apa yang ditulis oleh Bandler dan Grinder masih jauh dari apa yang saya lakukan, saya akui ini adalah penjelasan yang lebih baik daripada yang saya mampu jelaskan sendiri”.

Ada pujian, bahwa buku Patterns of the Hypnotic Techniques of Milton H. Erickson, MD itu mampu menjelaskan dengan lebik baik, tapi ada penekanan, bahwa ia baru lah secuplik kecil dari keahlian yang dipelajari. Andaikan ada praktisi NLP yang menciptakan teknik tersendiri dari hasil memodel teknik-teknik yang sudah ada, ia bukanlah menciptakan sesuatu yang baru melainkan mempelajari pola bagaimana mengotak-atik  suatu struktur untuk kemudian dikonsep atau dimodifikasi ulang menjadi suatu teknik tersendiri.

Ketika saya menulis status tentang NLP di facebook, ada seorang teman yang berkomentar seperti ini “ada temenku yang gak kenal dengan NLP atau pemberdayaan diri yang lainnya, hidup dia bahagia, sukses dan kaya raya juga pak”. Saya jawab komentarnya seperti ini “justru kita praktisi NLP inilah yang harus memodel kesuksesan teman tersebut, bukan justru orang yang sudah sukses malah dipaksa belajar NLP”

Apa sih yang dimodel dalam NLP? Hanya satu jawabannya yaitu struktur ekselensi. Yaitu kita belajar langkah demi langkah yang mendukung kesuksesan seseorang. Belief-belief dan value, perilaku, kemampuan, dan lingkungan yang mendukung kesuksesannya. Misalnya kita ingin belajar menjadi penyabar, maka kita mengamati dan meniru orang yang penyabar.

  • Keyakinan apa yang membuatnya bisa sabar?
  • Bagaimana ia memaknai kesabaran itu
  • Apa perilaku atau kebiasaannya sehingga bisa sabar
  • Kemampuan apa yang harus dimiliki untuk menunjang kemampuan bersabar ini?
  • Bagaimana bahasa tubuh orang yang sabar?

Kenapa harus sombong, bukankah kita belajar NLP ini karena mengakui bahwa masih ada yang kurang dalam hidup kita? Apalagi jika belajar NLP baru sekedar menghapal teori dan teknik, apalagi jika belajar NLP belum diterapkan untuk memodel kesuksesan orang lain. Bahkan praktisi NLP yang sukses pun didapat dari hasil meniru. Saya berhasil menjadi trainer pun karena meniru pendahulu-pendahulu saya lho. Silakan perhatikan teknik-teknik terbaik dalam NLP antara lain role model dan deep trance identification, bukankah mengajarkan bagaimana cara untuk meniru orang lain?

Jadi apa yang mau disombongkan?

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s