Pemanfaatan Object Imagery Bagi Ibu Menyusui

Beberapa waktu lalu saya membaca status seseorang yang dibagikan oleh seorang teman saya di laman facebooknya. Meskipun tidak secara detil menjelaskan tentang teknik object imagery, namun sebagai seorang hipnoterapis saya paham bahwa ini adalah satu variasi dalam object imagery. Tidak perlu membahas apakah si ibu ini memahami hipnosis atau hipnoterapi, namun yang paling penting disini adalah manfaatnya. Untuk itu sengaja saya kutip keseluruhan isi statusnya, dan saya juga mencantumkan sumber darimana saya dapatkan tulisan ini :

A LITTLE BLACK BOX

Beberapa tahun lalu, ada saudara pasangan muda dg anaknya yg baru lahir, datang berlebaran ke rumah orgtua saya. Bayi mungil yg belum genap 2 bulan itu terus menerus menangis selama berada di rmh kami, meskipun orgtuanya sdh berusaha segala cara untuk mendiamkannya. Sebagai tuan rumah pada umumnya, kami mencoba menawarkan berbagai opsi utk membantu mendiamkannya jg, dari beragam minyak oles smp kamar ber-ac, krn kami kira dia kepanasan dan lebih nyaman disana. Ibunya blg, anaknya memang selalu menangis. Kata kakeknya, yg jg dokter spesialis anak, mgkn kolik. tp masa iya sih kolik terus-terusan.

Sambil membuatkan teh dan menyiapkan kue di dapur utk mereka, sy dan ibu sy membahas (plus mengasihani) bayi tersebut. Sy bilang, “coba deh ma, tanya, siapa tau mama nya pny masalah dg suaminya apa gmn”. Sebelum pulang, ibu sy memanggil ibu bayi itu ke ruangan tertutup dan mengajaknya bicara. Tak lama, mereka pun pamitan pulang. Setelah mereka tiada, ibu sy hanya blg, ‘eh iya lho.. Bener… Dia pny masalah dg suaminya’.

Emosi bu, mengalir.

Dia mengalir lewat sambungan anak dan ibu yg tidak kasat mata. Dia mengalir lewat tali pusat ketika ibunya mengandungnya. Dia mengalir lewat air susu ketika ibunya menyusuinya, bahkan rasanya mengalir lewat udara.

Tidak percaya? Coba renungkan kembali, bukankah sifat anak menggambarkan situasi hati ibunya ketika dulu hamil? Bagi yg pny anak lbh dr 1 akan lbh bisa membedakannya, ketika suasana hati, kestabilan emosi berubah, sifat anak jg berbeda. Kehamilan pertama yg biasanya penuh gejolak, krn baru adaptasi dg sifat asli pasangan, mertua, ipar, atau kehidupan perkawinan, membuat calon ibu baru lebih sensitif dan gundah, lbh sering menangis dan marah, apalagi hormon naik turun tdk karuan, dan penuh kecemasan khwtr kehamilannya kenapa-napa. Biasanya anak pertama bgitu jg sifatnya, sensitif, emosional, pencemas atau mudah marah.

Pas lahir dan menyusui, begitu juga. Emosi ibu mengalir lewat air susu, jd ketika ibu lg kesal hatinya, anak jg jd rewel tak kunjung reda. Sdh lah kesal, di tambah anak rewel, yg ada semakin stres jadinya. Lewat masa menyusui,… Sama saja. Yg di kesali adlh suami, mertua, ipar, tetangga, tp anak jg kena batu bentakannya. Atau sentuhan yg kasar dan menyakitkan, pdhl kadang dia tidak salah. Pun salah, ga sgitu Hrs dimarahinnya.

Emosi bu, mengalir.

Jd gak fair kl gara2 org lain, anak2 kena imbas nya. Kl ibu jd mereka, ga bakal suka jg kan?
Jd gmn?
Solusi P3K nya, sederhana. (btw, P3K disini adalah Pertolongan Pertama Penanganan Kekesalan ya, hehehe)

Pny ‘black box’ pribadi. Kotak hitam yg biasanya di pesawat2 kan merekam momen2 terakhir shg berguna untuk evaluasi kl kecelakaan terjadi. Nah, black box ibu jg berfungsi utk meletakkan emosi2 negatif terkini, utk di evaluasi nanti, ketika anak2 sdh nyenyak bermimpi.

Ketika sebel luar biasa krn suami tidak membantu dg pekerjaan rmh, pdhl itu tugasnya, taro sebel itu di Black box utk sementara, utk nanti di bahas lg sm beliau gmn enaknya pembagian pekerjaan rumah tangga yg adil dan tidak bikin lelah.

Pas kesel sama mertua krn tidak berhenti ikut campur urusan pengasuhan anak kita, taro lg di Black box rasa keselnya, sambil nunggu anak tidur siang, nanti kita ‘ambil’ lg itu kesel dan kita pikirrriinnn gmn cara yg pantas utk menyampaikan kpd mereka bahwa ini adalah giliram kita mencoba memainkan peran orgtua, waktu beliau sdh lewat lama, dulu ketika mengasuh suami kita.

Ketika benci menerpa karena ipar selalu bikin masalah, dan sabar semakin menipis krn sdh bertahun-tahun tidak berubah, taro lg di Black box, nanti buka setelah malam tiba. Begitu terus kl kita sedih, kecewa, cemas, gelisah dan merasa emosi2 negatif lainnya yg tdk berhubungan dg anak kita. Mereka berhak mendapatkan ibu yg menyenangkan di rmh, yg ga menyangkutpautkan masalah pribadi dg kualitas pengasuhan anaknya.

Bentuk Black box nya gmn? Gmn sj blh. Kl mau maksimal, beli kotak kado indah berpita, taro di sudut kamar atau diatas lemari baju jg ga papa. Asal tempatnya gampang di raih dan di taro kembali saja. Jgn di gudang yang berkunci, krn kalo jauh dr tempat dimana kita biasa beremosi, jd males naro emosi nya, ntar kena anak2 lg. Warnanya ga perlu hitam kok. Panggilan Black box hanya sy gunakan utk menggambarkan fungsi.
Ga mau pake modal? Kardus Aqua atau supermi jg ckp memadai. Bungkus pake kertas kado kalo mau sdikit lbh rapih, tidak pun, gak papa sama skali. Ga mau jg? Bikin saja kotak imajinasi. Toh nanti kan emosi yg di taro jg tidak berbentuk. Naro emosinya jg blh seperti mengambil sesuatu dr hati, dan bener2 meletakkan nya di dlm box hitam itu. Mau di lakukan secara khayalan jg blh, jd org yg ngliat ga bingung menanyakan kenapa kita meletakkan sstu yg tdk tampak ke dalam sbuah box kosong, Yang mana sj blh. Yg penting anak tdk kena damprat Kekesalan emosi yg sdg menunggangi hati.

Lha.. Kalo sebel nya krn mrk, gmn? Sama saja. Membicarakannya dg mereka wkt emosi sudah reda dan kepala yg tdk lagi berasap akan membuat masalah semakin jelas solusinya.

Trik ini sangat berguna bagi saya. Maa sya allah anak2 sy alhamdulillah ceria. Malah si sulung di label sm neneknya the smiley boy, krn selalu tersenyum. Walaupun tidak memiliki box yg riil, tp sy benar2 mengesampingkan emosi negatif, terutama ketika hamil dan menyusui. Krn kondisi emosi ibu membentuk watak anak yg sdg di kandungnya. Dan sifat yg terbentuk itu akan menjadi pribadinya seumur hidupnya. Jd sy kl hamil, sy memastikan sy menangis tdk lebih dr 5x. Tdk adil, menurut sy, jika emosi sy yg sesaat menentukan kualitas kepribadian seseorang selamanya. Begitu jg ketika sy menyusui, pun sedang menangis sedih, sy elap air mata, pastikan yg anak lihat hanyalah senyuman saja, dan menciumnya sblm menggendongnya. Mereka tdk pernah blh melihat sy menangis dibawah usia 5, dan pun setelah itu, mereka tidak perlu ikut tercampur dg kotoran yg sdg ada di hati sy, apalagi yg tdk berhubungan dg mereka.

Emosi pak, mengalir.

Jadi jangan mentang2 ada tips Black box ini, jd bapak bs seenaknya menyakiti hati. Anak2 yg hepi adlh mereka yg ibunya jg hepi. Dan bukankah laki2 terbaik itu yg paling baik pada istri?

Kalau anda mau mencoba pny Black box sndiri, nanti anda akan melihat keajaiban terjadi. Karena ternyata, kl di taro sejenak itu emosi, pas kita rasanya waktunya utk menyelesaikannya, sering sekali.. Tidak jadi kita ambil kembali!
Masalah yg tadinya tampak begitu besar dan berat, tampak bgitu kerdil di akhir hari. Kata2 pedas yg tdk sabar kita lemparkan ke org yg sdh menyakitkan hati berubah menjadi kata2 bijak yg lbh dapat di terima dan di pahami. Buncahan emosi yg rasanya membuat kita mellow, sedih dan hancur tadi, tidak lg sbegitu berarti kini.

Blackbox ini bs berguna utk semua, tidak pandang usia, jenis kelamin, ras, suku, tinggi badan, berat badan, jumlah anak, warna kulit dan agama. Juga BUKAN hanya utk ibu yg sedang hamil dan menyusui sj. Jika anda sdh kadung membentuk anak yg kepribadiannya emosional korban masa kehamilan ibunya, anda bahkan bisa mengajak anak anda utk membuat Black box nya sndiri jg. Kan emosi negatif di miliki oleh semua manusia….

Oh ya, the black box has a black hole inside. Spt black hole yg ada di luar angkasa sana, yang menyerap semua yg ada di sekitarnya, bgitu juga Black box kita. Emosi yg lama, jika tidak di ambil dan tertumpuk emosi baru, hilang sudah. Yang tinggal adalah pikiran jernih dan hati yg tenang utk menyelesaikan masalah dg lbh baik dan terkadang lebih sederhana.

Tidak percaya? Coba saja!

(diposting oleh Sarra Risman di page Parenting with Ella Risman and family)

Ada beberapa poin penting saya bisa kita ambil disini, yaitu :

  • Emosi yang dirasakan oleh ibu akan ‘menular’ atau setidaknya mempengaruhi kondisi anak
  • Penting memiliki kemampuan mengelola emosi ini, salah satu metode yang ditawarkan oleh penulis adalah dengan menggunakan ‘blackbox’ atau kotak apapun, bahkan kardus bekas indomi pun boleh yang akan kita umpamakan sebagai kotak untuk  membuang ‘energi-energi negatif’ dari diri kita, sehingga saat kontak dengan pasangan dan anak tidak akan berpengaruh ke dirinya

Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan serta sesama. Silakan bagikan tulisan ini jika dirasa bermanfaat.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s