Self Healing, Atau Holistic Healing?

Tahun 2012 ketika dokter mendiagnosa saya terkena Non Hodgin Lymphoma Maligna (NHL-Maligna), salah satu kanker terganas yang menyerang sistem limfatik tubuh, maka reaksi saya seperti orang kebanyakan; “kok bisa?” , “kenapa harus saya?” dan diikuti dengan perasaan stress serta frustasi, hingga kemudian yang menyemangati saya adalah guru-guru hipnosis antara lain Bpk. Yan Nurindra dan Dr. Iwan D Gunawan. Reaksi wajar sebab saya senantiasa menjaga pola makan, tidak merokok dan tidak minum alkohol. Tetapi jika saya ambil hikmahnya, justru saya harus balik bertanya pada diri saya sendiri, “kenapa tidak?”. Bahkan para kekasih Allah pun dianugerahi penyakit. Saya sangat terinspirasi dengan semangat juang Pak Yan sehingga mampu bertahan. Saat itu yang ia katakan “tidak ada orang mati karena kanker, yang ada karena takut terhadap kanker”

Lama saya mencoba mencerna apa yang dikatakan beliau. Beliau sendiri mampu bertahan dari stadium 4 (semenjak 2010), dan kala itu di 2013 berhasil mengatasi kankernya. NHL yang saya derita menimbulkan granula di usus, belum menjadi benjolan dan tidak (belum) metastase ke bagian lain sepanjang jalur limfatik sehingga dokter menyimpulkan bahwa saya masih berada di stadium awal (1 atau 2) dan tentu, pikir saya, masih jauh lebih mudah diatasi dibandingkan dengan mereka yang sudah di stadium 3 atau 4. Hikmah lain yang saya peroleh adalah justru saya berkesempatan mengembangkan metode self healing untuk diri saya sendiri.

Meski demikian saya tidak berani gegabah untuk menyatakan telah bebas dari kanker, sebab dokter pun tidak menyatakan demikian. Treatment yang dilakukan setidaknya berhasil membuat sel-sel kanker menjadi dorman. Saya berhenti berkonsultasi secara medis karena (maaf) buruknya pelayanan pasca BPJS. Setidaknya saya berhasil melakukan pain management. Namun ada beberapa hal yang dulu bisa saya lakukan menjadi tidak bisa saya lakukan lagi, misal olahraga militer atau menyesuaikan standar kompetensi militer (hal lumrah dalam kehidupan militer segala serba terukur).

Yang telah berhasil saya temukan adalah metode recovery secara cepat, bahkan dalam hitungan detik. Contohnya ketika pipi saya robek saat bermain futsal namun dengan cepat lukanya menutup dan menghilang tanpa bekas! Juga kejadian tidak melepuh / tidak jadi melepuh ketika terkena benda panas. Mungkin sakit ini adalah hadiah dari Allah sekaligus menjadi suatu pembelajaran yang sangat berharga, namun sekali lagi; saya tidak berani katakan sembuh total, hanya saja menjadi tahu bagaimana benar-benar berdamai dengan sakit ini. Menurut sahabat saya pakar homeostatis, Buya Homeopath, tubuh kita memiliki kemampuan self healing yang hebat. Obat dan terapi hanyalah alat bantu bagi tubuh untuk mencapai kondisi homeostatis tersebut, namun kesembuhan tubuh sendirilah yang melakukan. Tentu atas seijin Allah.

Di facebook banyak sekali yang inbox menanyakan metode yang saya gunakan. Tentu yang saya bagikan adalah sesuai pengalaman apa adanya, yang menurut pengalaman saya sejauh ini terbukti berhasil. Pengalaman sebagai penderita yang mencari cara untuk survive, bukan sebagai trainer

Jika anda telah pernah belajar teori tentang struktur bagian diri manusia; ego dan id, superego, introjection dll dsb maka akan mudah memahami konsep holistiknya. Penyakit hadir bisa saja karena ada bagian diri yang ingin mengkomunikasikan sesuatu, namun dengan cara ‘keras’. Jadi ada ego (bagian diri) tertentu yang bermain disini. Kita pun bisa memanifestasikan penyakit ini sebagai introjection, sebagaimana orang-orang, benda-benda, siapapun dan apapun yang memiliki peranan dalam hidup kita. Sebagai introjection, tentu akan mudah bagi kita untuk berkomunikasi dengan penyakit ini. Ini yang dengan versi saya dinamakan “berdialog dengan penyakit”. Oke, bagi yang awam dengan konsep ego state, abaikan saja istilah-istilah yang saya gunakan, namun pada intinya; penyakit bisa diajak berdialog

Apa yang didiskusikan?
Kehadiran penyakit tentu memiliki intensi positif atau maksud baik. Dengan kata lain, ada pesan yang ingin disampaikan yang mungkin selama ini kita abaikan. Tugas kita adalah memahami pesan yang ingin disampaikan dan menerimanya

Kemudian let it go; ikhlas, tawakal dan yakin. Ada banyak belief yang bakal membantu untuk recovery, misal “tubuh yang baik akan mengikuti kehendak pikiran”. “Sakit adalah ujian untuk naik kelas”, “hak prerogatif Allah untuk memilih hamba yang pantas untuk dianugerahi penyakit seperti ini”, “Allah tidak akan menguji melebihi batas kemampuan hambanya” dll. Anda yang tahu, belief yang mana yang bisa anda jadikan sumber daya terkuat untuk membantu anda.

Bagaimana jika ada ego (bagian diri) yang mendorong hadirnya penyakit ini? Berdialog dengan bagian diri tersebut. Cari tahu apa yang bisa dikompromikan. Anda yang sudah belajar NLP, hypnotherapy dan EST tentu akan paham apa yang saya maksud.

Kemudian intruksikan atau bujuk penyakit itu untuk pergi / kembali ke tempat dimana ia berasal. Dari Allah kembali pada Allah. Nyatakan biarlah ini menjadi tanggungjawab kita.

Apakah semudah itu? Tidak juga. Ketika pesan yang dibawa benar-benar sudah dipahami dan mau dijalankan atau bisa dikompromikan maka mudah untuk sembuh. Tergantung pada berat tidaknya sumber psikis yang harus dibereskan. Dalam beberapa kasus dimana ego yang mendorong sudah ‘malevolent’ justru penyakit akan balik menyatakan “memang kamu siapa kok menyuruh aku untuk pergi?”

Tetapi untuk masalah-masalah yang ‘belum menjadi benang kusut’, kesembuhan itu bahkan bisa terjadi hanya dalam hitungan detik. Dan tenang saja, prakteknya jauh lebih sederhana ketimbang membaca tulisan saya ini.

‪#‎knowing‬ self is enlightment

Informasi lebih lanjut silakan kontak facebook Muhammad Hujairin

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s