Tentang Mesmerisme, Abbadictus Faria dan dari Trance hingga Histeria

Tulisan ini saya buat di sela-sela waktu saya dalam belajar dan mengamati fenomena perkembangan dunia hipnotisme di Indonesia. Selayaknya sebuah perkembangan maka tentu di antara kita mengharapkan terjadi sesuatu yang patut kita namakan sebagai ‘kemajuan’. Perkembangan hipnotisme sebagai suatu keilmuan tentu tidak terlepas dari sejarah. Dari sejarah itulah kita memahami perkembangan pemikiran dari waktu ke waktu, bahkan dari generasi ke generasi. Jika kita ingin mencerdaskan kehidupan dan peradaban manusia, maka sikap kritis tentu harus dikedepankan. Tidak melulu dogmatis, namun tidak juga keblinger yang terlalu mengedapankan logika sempit kita. Oleh sebab itu ketika ada suatu thesis, jika argumentasi pendukung disertai bukti-bukti validnya kuat, maka layak berkembang menjadi suatu teori. Teori pun bisa memperkuat teori-teori yang telah ada sebelumnya, bisa juga malah sebaliknya. Jika terjadi sebaliknya, maka inilah yang dinamakan sebagai anti thesis. Nah jika anti thesis tersebut semakin banyak argumentasi pendukungnya, maka teori lama pun selayaknya ditinggalkan.

Di atas saya tuliskan “perkembangan hipnotisme sebagai suatu keilmuan tentu tidak terlepas dari sejarah”, maka benar-benar patut bagi kita untuk memahami sejarah suatu keilmuan agar dapat kita tarik benang merah yang menghindari diri kita dari sikap taqlid buta. Hanya percaya, dan tidak berdasar. Lalu ujung-ujungnya hanya membeo.

Para praktisi hipnosis tentu sudah mengenal sosok Franz Anton Mesmer (lahir pada 23 Mei 1734 – meninggal di Meersburg, Baden, 5 Maret 1815) seorang dokter berkebangsaan Jerman yang tertarik pada bidang Astronomi. Mesmer mengemukakan teori bahwa ada perpindahan energi alami yang terjadi antara semua benda bergerak (mahluk hidup) dan benda tidak bergerak (benda mati) yang disebutnya sebagai animal magnetism, dan kemudian disebut juga sebagai mesmerisme. Mesmer dilahirkan di desa Iznang, di tepi danau Constance di Swabia, Jerman dan merupakan anak dari Anton Mesmer (1701-1747) dan istrinya Maria/Ursula (1701-1770). Setelah belajar di Yesuit, Universitas Dillingen dan universitas Ingolstadt, dia mengambil studi kedokteran di universitas Wina pada tahun 1759. Tahun 1766 Mesmer mempublikasikan disertasi doktoral dengan judul De planetarum influxu in corpus humanum (Pengaruh planet kepada tubuh manusia), yang mendiskusikan pengaruh dari pergerakan bulan dan planet-planet pada tubuh manusia dan penyakit. Mesmer percaya bahwa di dalam tubuh manusia ada cairan yang disebut cairan planet (planitary fluida) dan kondisinya dapat dipengaruhi oleh peredaran benda-benda langit. Jika terjadi ketidakseimbangan akibat peredaran benda-benda langit tersebut, maka dibutuhkan orang yang yang memiliki kemampuan magnetisme untuk kembali menyeimbangkan sirkulasi cairan tersebut. Oleh sebab itu ia juga percaya bahwa sesungguhnya setiap makhluk bahkan benda mati dapat saling mempengaruhi tergantung seberapa kuat energi magnetisme di dalam dirinya. Belakangan diketahui pula bahwa disertasi Mesmer ini menjiplak karya seorang dokter Inggris terkemuka bernama Richard A. Pattie. Bukti-bukti plagiarisme ini disusun oleh Frank A. Pattie.

Jujur saja, jika pengobatan ala Mesmer ini diterapkan di jaman serba digital, maka kita akan menganggapnya sangat absurd. Alias konyol! Bagaimana tidak, para pasien diminta saling untuk berendam di suatu bak yang sangat besar, saling terhubung satu sama lain dengan sebatang logam yang digenggam oleh masing-masing pasien. Lalu Mesmer perlahan menggiring mereka menuju kondisi trance. Dalam kondisi hipnosa (trance hipnotik) Mesmer mensugestikan bahwa cairan di dalam tubuh mereka diselaraskan kembali dan mereka sembuh. Cukup banyak pengikut dan pasien-pasien Mesmer akibat dari maraknya berita mulut ke mulut tentang pengobatan fenomenal ini. Salah satu muridnya adalah Anton de Puysegur, seorang tokoh militer dan aristokrat berkebangsaan Perancis.

Keruntuhan teori Mesmer
Ketika suatu teori dan praktek dikembangkan, tentu ada pendukung dan ada penentang. Mereka yang menentang mendesak pemerintah Inggris dan Perancis untuk mengadakan investigasi. Bukan main-main, tim investigasi ini dibentuk atas perintah Raja Louis IV pada 1784. Tim ini diberi nama The Franklin Commission, beranggotakan antara lain Benjamin Franklin, ilmuwan penemu alat penangkal petir yang saat itu menjabat duta besar Amerika untuk Perancis, kemudian Dr. Guillotin, ilmuwan penemu penghilang rasa nyeri dan penemu metode eksekusi dengan pisau Guillotin dan juga Antoine-Laurent Lavoisier, seorang ilmuwan ahli kimia.

Singkatnya, hasil temuan tim investigasi ini menyimpulkan bahwa teori Mesmer tidak dapat dipertanggungjawabkan dan para pasien sembuh karena efek sugesti belaka. Semenjak saat itu, Mesmerisme mengalami kemunduran yang sangat signifikan. Mesmer sendiri kemudian diusir dari Paris, lalu menyingkir ke Swiss sampai akhir hayatnya pada 5 Maret 1815 itu dan mati dalam keadaan miskin.

Adalah seorang pendeta Katolik Portugal bernama Abbadictus Faria (31 May 1756 – 20 September 1819), yang lebih dikenal dengan sebutan Abbe Faria. Dari hasil pengamatannya terhadap fenomena magnetisme, ia menyimpulkan dengan kalimat “nothing comes from the magnetizer; everything comes from the subject and takes place in his imagination generated from within the mind. Magnetism is only a form of sleep. Although of the moral order, the magnetic action is often aided by physical, or rather by physiological, means–fixedness of look and cerebral fatigue”. Terjemahan bebasnya adalah kondisi termagnetis atau termesmer bukanlah karena kehebatan si operator melainkan karena imajinasi dan keyakinan orang yang dimagnetis itu sendiri sehingga terjadilah kondisi trance.

Anda mungkin pernah mendengar cerita yang kurang lebih sama seperti ini. Di suatu kampung ada sebuah pohon besar yang sangat rindang. Seorang sesepuh kampung paham jika akar-akar pohon itu menjaga air tanah di kampung tersebut sehingga sangat dikuatirkan jika pohon itu ditebang. Lalu ia mengatakan bahwa di pohon itu ada penunggunya. Sedikit demi sedikit orang kampung mulai percaya bahwa di pohon itu memang ada penunggunya. Suatu ketika, ada orang yang kebetulan sedang trance dan halusinatif, secara tak sengaja melihat suatu penampakan di pohon itu. Semakin berkembanglah kisah keramat di pohon itu. Orang-orang bahlul yang pendek akal lalu memberikan sesajen di pohon tersebut. Dan ini semua akibat dari suatu sugesti belaka!. Meskipun saya menyatakan seperti ini, saya yakin ada juga yang membantah dengan mengatakan “saya melihat dengan mata kepala saya sendiri penampakan itu” atau “saya melihat sendiri bapak itu melakukan hal yang luar biasa itu”. Saya justru yakin bahwa yang menagtakan sedang trance saat itu sehingga dia melihat suatu ilusi akibat trance halusinatif tersebut. Mengapa saya yakin seperti itu? Sebab saya sendiri pun sering dilihat oleh orang lain menjadi banyak rupa dan pernah juga seorang teman melihat wujud saya sebagai seekor harimau. Saya mengakui pada anda semua bahwa saya tidaklah sakti, melainkan mereka-mereka yang melihat fenomena aneh pada diri saya sesungguhnya akibat kondisi trance yang mereka alami ketika berdekatan dengan saya.

Magnetisme sendiri bukan hanya dikenal di Perancis, melainkan juga di wilayah Persia. Trend yang berkembang saat itu adalah trik mengintervensi pikiran orang lain hanya melalui tatapan mata.

Sementara itu, Abbe Faria kemudian mengembangkan oriental hypnosis di Paris pada awal abad ke-19. Faria mengubah istilah mesmerism, kemudian memperkenalkan kondisi akibat konsentrasi yang dilakukan oleh subjek (=orang yang dihipnosis). Dalam istilah-istilah yang dikembangkan teori Faria, operator disebut sebagai “the concentrator” dan somambulisme adalah kondisi yang sama dengan tidur lucid (lucid sleep). Metode yang dikembangkan adalah perintah dan mengikuti ekspentasi. Teori ini dikenal juga sebagai Fariism. Lalu di Nancy, Perancis, Ambroise-Auguste Liebault (1864-1904), mendirikan Nancy School of Hypnotism dan Emilie Coue (1857-1926) penemu applied conditioning (pengkondisian klien), mengembangkan teori sugesti, autosugesti dan mulai menggunakannya sebagai perangkat terapi. Kemudian Johannes Schultz mengembangkan teori-teori ini dengan sebutan autogenic training.

Nah, autogenic training inilah menjadi cikal bakal hipnosis modern yang client centered. Apalagi semenjak Milton H Erickson mengembangkan teori tentang trance dan pembelajaran tentang trance.

Tentang Trance dan Histeria.
Di artikel ini saya tidak menulis panjang lebar tentang trance dan fenomenanya atau bagaimana cara menggenerate trance sehingga terjadi kondisi hipnosa. Namun saya perlu mengungkap pada para praktisi semua bahwa kondisi trance tidak sepenuhnya aman. Ibarat kendaraan, maka kita hanya perlu menggiring klien pada kondisi trance yang dibutuhkan saja. Ibarat obat, gunakan secukupnya dengan dosis atau takaran yang sesuai dengan permasalahan.

Trance sesungguhnya dibagi dua kategori yaitu natural trance (misal kondisi menjelang tidur, menjelang bangun, saat larut pada suatu permainan atau aktifitas, saat larut pada suatu kondisi emosi tertentu, dan juga saat menghayati peran tertentu dalam jati dirinya). Jenis trance satunya lagi adalah arbitrer trance, atau trance yang dibuat atau bahkan dipaksakan misal dengan sengaja mengikuti ritme mantra tertentu, wirid, penularan state atau akibat sugesti.

Ada falsafah yang mengatakan ngono ya ngono nek ojo ngono, yang berarti tidak perlulah terlalu larut pada suatu keadaan atau gagasan tertentu. Ada juga falsafah yang mengatakan “ojo kagetan, ojo gumunan, ojo aleman”. Hobi jika sudah menjadi keranjingan dan candu pun tidak sehat, tidak ekologis. Trance bisa tercipta dari kondisi terpukau, terbuai, terlena, terpesona, takjub dsb yang mem-by pass factor kritis sehingga manusia tidak lagi menempatkan logika pada kedudukannya.

Dalam kondisi hipnosis baik untuk terapi dan stage hypnosis pun kondisi trance harus segera dikembalikan normal lagi jika terapi atau permainan telah selesai. Mengapa demikian? Ketika seorang dalam satu waktu berulang kali dibawa keluar masuk ke dalam kondisi trance, yang tidak sugestif pun bisa digiring menuju deep trance. Bahkan gilanya lagi bisa masuk ke dalam kondisi histeria, dan ini tidak sehat! Jika anda belum yakin dengan argumentasi saya silakan amati seseorang yang dibuat sedih berulang-ulang, lalu merasa hopeless dan helpless maka kesedihan itu semakin membuatnya larut ke dalam histeria. Seseorang yang disiksa secara batin akan masuk ke dalam kondisi histeria jika tidak diberi kesempatan untuk flight atau kondisi tersebut disudahi. Seseorang yang asyik dengan keranjingannya dan tidak ada rem lagi dalam kegembiraan maka menjadi euforia dan bahkan histeria sehingga membahayakan bagi dirinya. Tidak mampu menghentikan tawa bisa berujung pada kematian ketika tawa tersebut melarutkan histerianya.

Histeria juga didapat pada orang yang mengalami kesurupan atau trance possession. Kondisi ini tercapai akibat terlalu larut pada masalah dan kebuntuan berpikirnya sehingga coping mechanism tidak bekerja. Saya pun beberapa kali mendapati subjek stage hypnosis yang larut dalam histeria dan sulit dikeluarkan dari kondisi normal akibat stage hypnotist memainkan permainan tanpa batas koridor waktu. Setelah saya selidiki, stage hypnotist lupa memasang jaring pengaman pada kondisi light dan medium trance yaitu sugesti tempat kedamaian (peaceful place). Sugesti ini sederhana namun seyogyanya tidak boleh diabaikan jika subjek anda berpotensi histeria.

Saran saya, belajarlah hipnosis dan hipnoterapi yang benar pada ahlinya. Sebagai trainer pun harus bertanggungjawab terhadap apa yang diajarkannya.

iklanku hipnosis



Muhammad Hujairin
Saat ini sedang mengambil studi Manajemen Pertahanan / Defense Management di Universitas Pertahanan dan Cranfiel University (S.2). Memiliki antusiasme tinggi dalam bidang psikologi terapan, hipnotisme, Neuro Linguistic Programming, Mind Power baik dari perspektif tradisional Indonesia maupun western hypnosis. Saat ini Muhammad Hujairin sedang meletakkan ketertarikan yang sangat luar biasa pada ilmu memetika dan budaya. Kancahnya di dunia hipnosis Indonesia adalah menjadi pengajar dan instruktur hipnosis bersertifikat resmi dari IBH, pendiri komunitas NHC dan banyak bertukar ide dengan para trainer-trainer di seluruh Indonesia.



Contact person :

  • WA / SMS : 085244858898
  • email : hujairinviivo@gmail.com
  • facebook : muhammad hujairin@ymail.com

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s