Mengenali Diri Sejati

Ada suatu pertanyaan yang mungkin cukup menyulitkan jika tidak dikatakan membingungkan untuk dijawab, yaitu pertanyaan “Siapakah saya ini?”

Jika anda ditanya oleh seseorang, “Siapa anda?”, anda mungkin akan menjawab dengan menyebutkan nama anda sendiri. Misal ;

“Kamu siapa?”

“Saya Aristha”

Nah, jika si penanya tidak puas dan terus bertanya seperti ini ;

“Aristha itu kan namamu, tetapi yang saya tanyakan adalah siapa dirimu?”

Deg! Mulai bingung deh. Lalu menjawab asal
“Saya seorang manusia”, lalu..

“iya saya tahu kamu manusia, itu adalah spesiesmu…tapi kamu itu siapa?”

Dan maksud pertanyaan ini adalah menanyakan diri sejati, the true self, suatu tugas penting namun diabaikan oleh kebanyakan manusia; mengenali diri sendiri.

Jika kita menggunakan teori psikoanalitis dari Sigmund Freud maka kepribadian (self) manusia terdiri dari id, ego dan superego yang bekerjasama membentuk kepribadian manusia yang kompleks. Mari kita bahas satu persatu :

Id

Adalah elemen kepribadian manusia yang terbentuk sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis (memiliki energi), sehingga komponen utama kepribadian.

Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua kesenangan, keinginan dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak segera terpenuhi maka akan muncul kondisi kecemasan dan ketegangan.

Ego

Adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab menjembatani dunia dalam diri dengan dunia realitas eksternal. Masih menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan dorongan dari id dapat dinyatakan dengan cara yang dapat diterima oleh dunia nyata (lingkungan). Ego berfungsi di level pikiran sadar, bawah sadar dan nir sadar.

Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara yang realistis dan sesuai dengan kondisi sosial. Ego melepaskan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, yaitu dengan cara menemukan objek di dunia nyata yang sesuai dengan gambaran mental yang diciptakan oleh id.

Superego

Komponen terakhir kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang diperoleh dari lingkungan (orang tua dan masyarakat). Superego bekerja dengan prinsip benar dan salah dan memberikan pedoman untuk membuat penilaian. Dalam diri manusia ada kepuasan atau kebanggaan ketika mematuhi norma atau aturan juga mematuhi sosok yang memiliki otoritas terhadap dirinya (orang tua, guru, norma), juga kendali perilaku dari dalam diri yang akan mengkritisi ketika melakukan kesalahan. Kendali ini sering disebut sebagai hati nurani.

Konsep kepribadian non tunggal seperti ini bukan hanya dikenal di peradaban barat. Dalam filosofi Jawa pun, manusia (dalam bahasa Jawa Manungso = manunggaling roso=kumpulan state) adalah sekumpulan pribadi yang terikat dalam satu kesatuan individu. Juga dikenal dengan falsafah sedulur papat lima pancer. Pancer adalah tonggak hidup dirinya sendiri, yaitu diri sendiri. Sedangkan empat yang lain adalah kakang kawah (air ketuban) sebagai pelindung fisik sang diri, adik ari-ari (tembuni/plasenta) yang mengantarkan pada tujuan sehingga disebut juga sebagai pengantar, getih (darah) yang membantu janin untuk tumbuh menjadi manusia lengkap. Darah adalah wahana dan sarana iradatnya manusia. Darah juga dipercaya sebagai pembantu manusia menemukan jati dirinya sebagai hamba Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedangkan yang terakhir adalah pusar, yang menghubungkan antara ibu dengan si bayi, juga sebagai perantara pesan / komunikasi antara ibu bahkan dari Yang Maha Kuasa kepada si bayi. Dalam falsafah Jawa, untuk mengenali pancer ini maka perantaranya adalah keempat saudara ini.

Bagaimana dengan konsep higher self dalam hipnoterapi?

Untuk mengenali higher self, sesungguhnya tak sesulit yang dibayangkan. Higher self, pancer atau pun diri sejati sesungguhnya adalah super ego yang dimanifestasikan dalam bentuk citra internal pikiran dan perasaan. Higher self merangkum semua nilai-nilai kebijaksanaan, nurani, value yang bersifat universal. Untuk itu higher self juga merupakan sarana manusia menyentuh wilayah ke-Ilahian (God Spot) dalam dirinya.

Nah uniknya, higher self ini beragam pula perwujudannya sesuai dengan belief system dan budaya yang dianut. Higher self menuntun diri menuju kebajikan universal dan bekerja sebagai nurani bagi manusia. Higher self juga diyakini bisa memberikan pilihan terbaik baik diri dalam melangkah atau mengambil keputusan yang tepat. Ketika seseorang berada dalam tuntunan nuraninya maka amatlah mudah baginya untuk meraih sesuatu secara ekologis (imbang) dalam aspek-aspek kehidupannya.

Bagaimana cara memanifestasikan higher self ini dan berdialog dengannya?

Saya seringkali mengajak peserta pelatihan saya untuk berada dalam kondisi trance meditatif yang damai dan tenang. Memang pada awalnya akan ada lompatan-lompatan pikiran. Namun ketika lompatan pikiian tersebut dipasrahkan dan dibiarkan saja, peserta semakin mudah masuk ke kondisi trance yang amat dalam bahkan mencapai kondisi ultra height. Di kondisi ultra height tersebut, higher self bisa ditemukan / dimanifestasikan dalam bentuk suara atau wujud seseorang atau sesuatu. Jika tidak, akan ada perasaan kuat yang teramat damai, tenang dan membahagiakan.

Apa gunanya bagi kehidupan ?

  • Memudahkan dalam mengambil keputusan tepat dan terbaik secara ekologis dalam aspek-aspek kehidupannya.
  • Memberikan teguran dari nurani terdalam ketika melakukan kekeliruan
  • Memberikan arah, jalan atau langkah tepat untuk diambil ketika dihadapkan pada keinginan atau pilihan
  • Mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, menyentuh God Spot dalam diri manusia
  • Semakin bijak dan berkeinginan dalam jalan kebenaran
  • Dll

Anda ingin mempelajarinya lebih jauh? Silakan hubungi saya secara pribadi atau ikuti kelas pelatihan NHC Hypnotherapy di tanggal-tanggal terdekat

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s