Bermain Dengan Pigura Pikiran

Dalam metodologi Neuro Liguistic Programming (NLP), kita mengenal FRAME. Apa sih Frame itu? Frame adalah pigura. Sama seperti ketika anda memiliki lukisan atau foto, ketika anda ingin memajangnya, mungkin anda membutuhkan pigura. Dalam menggunakan pikiran anda, anda bisa memutuskan menggunakan pigura apa bagi pikiran anda, baik untuk memikirkan sesuatu yang positif maupun negatif. Atau bisa saja anda tidak gunakan pigura apapun, yang berarti peristiwa tersebut tidak bermakna apa-apa melainkan netral saja (tanpa muatan emosi).

Alfred Korzybski seorang ahli semantic yang dimodel oleh Dr Richard Bandlerdan John Grinder pernah mengatakan “Tidak ada 2 orang atau situasi atau proses tahapan akan sama dalam semua detailnya” Beliau melanjutkan bahwa pengetahuan dan pengalaman manusia dibatasi oleh Human Nervous System dan bahasa yang digunakan dalam diri mereka. Dan tidak ada seorang pun dapat mengakses sebuah pengalaman yang sama dan hasilnya sama. Karena mereka dibatasi oleh filter di otak kita yang akan merespon sebuah kenyataan. Filter ini berdasarkan keyakinan-keyakinan (beliefs) dan tata nilai (values) di dalam diri kita yang merupakan hasil pembelajaran dan pemaknaan terhadap pengalaman-pengalaman hidup kita. Pemaknaan ibaratnya peta, dan pengalaman adalah wilayah yang dipetakan. Apakah sama peta dengan wilayah? Tentu tidak, karena peta hanyalah gambaran yang mewakili pencitraan wilayah. Demikian juga pemaknaan seringkali tidak mewakili pengalaman secara utuh. (the map is not territory)

Kita tidak mengupas presuposisi the map is not territory secara lengkap disini. Tetapi, titik berat artikel ini adalah, kita bisa memaknai apa saja terhadap sesuatu kejadian. Tidak masalah apakah itu salah atau benar, melainkan apakah makna tersebut memberdayakan kita atau justru menyiksa batin kita? Anggap ada sebuah lukisan seorang pimpinan rezim seperti Hitler. Kesannya akan berbeda ketika pigura yang kita gunakan berwarna pink, dipenuhi karakter lucu seperti Sinchan, Donald Duck atau Winnie The Pooh sehingga mengaburkan kesan angker sosok Hitler. Berbeda halnya ketika pigura yang digunakan terbuat dari besi keras, dingin, bercorak gothic dan bahkan jika perlu ditempatkan di ruangan dengan cahaya temaram dan sepi.

Inilah yang disebut pigura pikiran, alias frame of mind. Peristiwa tetaplah peristiwa, dan yang membedakan adalah bagaimana anda memaknainya sehingga kesannya menjadi berbeda.

Bolehkah berpikiran negatif? Saya jawab, siapa yang melarang? Berpikirlah negatif jika itu untuk melindungi tujuan / kepentingan anda. Berpikirlah negatif jika berguna agar anda menjadi hati-hati. Tetapi jagalah jangan sampai terjadi negative feeling. Karena yang berbahaya itu adalah merasa negatif. Ketika perasaan anda sudah negatif maka akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan mental anda. Sehingga dengan cara ini anda bisa menggunakan pigura yang tepat, misal :

“Ibuku galak, sehingga dikit-dikit memberi judgement terhadap apapun yang kulakukan”

Anda bisa menambahkan makna, dengan cara itulah ibu mendidikku dan itulah caranya menunjukkan kasih sayang. Saya pun tahu ibu sudah melalui masa-masa keras dalam kehidupannya.

Bedakan ketika anda terhenti pada pemikiran “Ibuku galak, sehingga dikit-dikit memberi judgement terhadap apapun yang kulakukan”, negative feeling apa yang anda rasakan?

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s