Kecerdasan Spiritual Dalam Memilih Jodoh

Apa saja yang menjadi cakupan kasus-kasus yang bisa / boleh ditangani dengan hipnoterapi? Agar kita semua makin paham, hipnoterapi melayani hal-hal sebagai berikut :

  • Ego Strengthening
  • Emotion Management
  • Finishing Unfinished Business
  • Trauma
  • Anxiety dan phobia
  • Reaksi konversi
  • Berdamai dengan diri sendiri
  • Psikosomatis
  • Somatopsikis/masalah medik yang membebani psikis

Suatu kali saya didatangi oleh seorang klien yang sedang galau karena memikirkan jodoh. Ia, seorang gadis muda yang cantik dan berpendidikan. Memiliki pujaan hati, seorang lelaki yang tidak disetujui oleh orangtua dan keluarganya. Alasan mereka logis, sebab si lelaki belum menunjukkan kemampuannya bertanggungjawab; bekerja/mencari nafkah dan tidak juga berpendidikan setara dengan si gadis. Namun yang namanya perasaan, sudah kadung sayang gadis ini sukar untuk melepaskan perasaannya pada si lelaki itu. Sudah terlanjur nyaman dan merasa kebutuhan akan perhatian dan sentuhan telah diberikan oleh lelaki itu. Ada satu hal lagi yang sangat prinsip, mereka ternyata beda iman, ini yang benar-benar tidak dapat diterima oleh orangtua si gadis.

Ia ingin bisa menuruti keinginan orangtuanya, tetapi ia sayang juga kepada lelaki itu. Selain itu, melalui proses anamnesa yang saya lakukan, gadis ini menyimpan kekecewaan terhadap orangtuanya. Ia merasa orangtuanya kurang adil dan nasibnya tak sebaik saudar-saudaranya. Dari anamnesa ini maka saya simpulkan bahwa gadis ini memiliki masalah unfinished business (kecewa terhadap ortu) dan belum mampu berdamai dengan disi sendiri (konflik pilihan hidup).

Untuk memulai terapi, saya ajukan pertanyaan; “Suatu saat nanti ketika usiamu 50 tahun, dalam arti sudah lebih separuh perjalanan hidupmu, ingin dikenal sebagai seorang ibu yang bagaimana kah dirimu oleh anak-anak dan keluargamu?”

“Saya ingin jadi ibu yang baik, taat, solehah, mampu mendidik anak dengan baik” jawabnya spontan

“Baik, sekarang dengan jawaban itu, mampukah kamu membayangkan seperti apakah dirimu itu?” tanya saya lagi.

“Bisa pak”

“Dan, kira-kira lelaki seperti apa yang mampu membantumu, atau mengantarkanmu menjadi sosok ibu yang seperti itu? Adakah kamu dapati pada lelaki itu?”

Seketika gadis itu terisak. Saya minta ia mengeluarkan tangisannya. Dalam sedu sedannya ia sendiri masih menyangsikan bahwa lelaki itu sudah pantas menjadi pendamping hidup dan menjadi ayah bagi anak-anaknya kelak. Terbayang sulitnya pula bagi keluarganya untuk menerima. Saya pun memfasilitasinya untuk menuntaskan abreaksinya. Lalu terakhir meminta ia memaafkan kekurangan orangtuanya.

Di penghujung terapi, saya jelaskan padanya tentang kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual ini menjamin ketentraman hidup dan pencapaian-pencapaian hidup yang lebih bermakna. Kecerdasan spiritual berbeda dengan religiusitas seseorang. Religius belum tentu spiritual, begitu juga sebaliknya. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk memaknai hidupnya. Ia tahu siapa dirinya, darimana ia berasal, dan kemana ia akan kembali. Ia memahami perannya melalui perilaku hidupnya. Untuk itu setiap apapun yang dilakukannya selalu memiliki tujuan. Ia menjalin hubungan kasih dengan seseorang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang atau bahkan kebutuhan biologis semata. Tetapi dengan kecerdasannya ia memiliki tujuan yang ingin diwujudkannya, dan perjodohan merupakan salah satu sarana baginya untuk mencapai tujuan itu.

Misal ketika seorang muslim menyatakan ia menikah karena bentuk ibadah kepada Tuhannya, maka tentu yang ingin ia capai adalah keridhoan Allah. Untuk mencapai keridhoan Allah maka butuh keridhoan orangtua. Ia menikah untuk mewujudkan generasi penerus yang baik. Ia ingin menjadi seorang yang bagaimana ia ingin dikenang. Maka sedapat mungkin jodoh yang ia cari adalah seseorang yang mampu mendampingi dan membantunya mencapai tujuan tersebut. Jadi kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk memahami purpose of life. Memahami tujuan hidup, baik per bagian (partial) maupun secara keseluruhan.

Apa jadinya jika tidak? Tidak terjadi apa-apa, tetap menikah, bahagia belum tentu. Mungkin saja ia kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup yang bermakna. May peace be upon us

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s