Memahami Seluk Beluk Emosi Dan Cara Cerdas Menguasainya

“Kelakuannya membuatku emosi”

“Lama-lama jadi emosi juga aku mendengar ucapannya”

“Sabar dong, jangan emosi dulu…”

Pernahkah mendengar kata-kata seperti di atas? Sahabat sekalian, menurut Anda apa sih emosi itu? Memang agak kurang relevan ketika mendengar contoh-contoh kalimat seperti di atas seolah emosi selalu berkaitan dengan amarah. Padahal amarah sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak jenis emosi.

Secara harafiah, kata “emosi” (emotion) berasal dari bahasa Prancis Emouvoir yang berarti “kegembiraan”. Sedangkan secara psikologis menurut J.P Du Preez, emosi adalah reaksi tubuh saat menghadapi situasi tertentu. Dalam istilah yang digunakan para praktisi NLP, disebut juga sebagai “state” atau keadaan diri.

Lalu bagaimana emosi terbentuk? Sifat dan intensitas  emosi sangat berkaitan dengan aktifitas kognitif (berpikir) manusia sebagai hasil persepsi terhadap situasi yang dialaminya. Emosi manusia berproses dalam sistem limbik, yaitu otak kecil. Bagian ini terletak di atas tulang belakang dan di bawah tengkorak.  Sistem ini menyimpan banyak informasi yang tidak tersentuh oleh indra sehingga sering disebut otak emosi. Selain mengendalikan emosi, sistem limbik juga mengontrol hormon, memelihara homeostatis, rasa haus, lapar, dan menjadi pusat rasa senang, metabolisme, serta memori jangka panjang. Oleh sebab itu juga emosi adalah satu produk dari pikiran bawah sadar.

Dengan mengacu pada definisi yang disampaikan oleh Du Preez, emosi manusia berkaitan dengan tiga aspek penting, yaitu persepsi, pengalaman, dan proses berpikir. Perpaduan ketiga aspek itu lah yang membentuk suatu sistem pikiran (mindset) dan menyebabkan keunikan per individu sehingga kita bisa kenali ada manusia yang mudah marah, menuduh bahkan memfitnah. Sebaliknya juga ada manusia yang tenang atau santai dalam menghadapi berbagai situasi. Itu semua terkait dengan kualitas mindsetnya.

Jika kondisi emosi bisa mempengaruhi respon fisik seseorang, misal denyut jantung, sirkulasi udara dan pola pernafasan, apakah bisa juga sebaliknya? Iya, sebab secara umum, tubuh, pikiran dan perasaan merupakan suatu kesatuan sistem yang saling mempengaruhi. Kondisi fisik pun misal lingkungan, denyut jantung, sirkulasi darah, dan pernapasan dapat mempengaruhi emosi seseorang.Sehingga dengan demikian untuk menenangkan emosi, kita bisa memilih berada di suatu lingkungan yang nyaman dan tenang.

Emosi disadari atau tidak ternyata memiliki dampak yang bersifat membangun atau justru merusak. Emosi yang membangun jika kita mampu menempatkan emosi di saat yang tepat dan dengan kadar yang tepat. Sebaliknya jika emosi itu dibiarkan tak terkendali atau justru Anda selalu dikendalikan emosi maka emosi tersebut berpotensial merusak dan membuat kehidupan Anda tidak berjalan ke suatu tujuan tertentu. Dengan demikian juga, dapat dikatakan bahwa emosi tidak hanya merupakan reaksi terhadap kondisi diri sendiri ataupun lingkungan, tetapi juga merupakan upaya pencapaian ke arah pembentukan diri menuju hidup yang transendetal (spiritual). Tidak hanya itu, emosi yang terdapat di dalam diri manusia juga berfungsi sebagai sensor terhadap perilaku Anda yang berasal dari kekuatan pikiran. Oleh karena itu, emosi dalam bentuk sedih, berduka, marah, jengkel, kecewa, ceria, suka, maupun bahagia menjadi sensor atas pikiran dan perbuatan yang Anda lakukan.

Dengan mencermati artikel ini, persepsi sebagian orang yang menganggap bahwa emosi adalah sikap marah belaka sungguh sangat keliru. Emosi bukan semata-mata sikap marah, tetapi mencakup beberapa sikap lain, seperti takut, cemas, sedih, dan malu dll.

Ada satu hal yang perlu diingat bahwa Anda memiliki kebebasan untuk mengendalikan emosi. Jika anda yakin bahwa emosi hanyalah alat dalam kontrol perilaku dan keadaan diri, kita sebagai manusia memiliki kemampuan mengontrol emosi tersebut. Sebaliknya, jika Anda selalu kesulitan dalam mengontrol emosi, artinya anda masih mudah dikuasai emosi anda. Kemampuan mengendalikan emosi akan mempermudah hidup anda dan membaantu dalam pencapaian tujuan hidup. Inilah yang disebut sebagai kecerdasan emosi atau emotional quotient (EQ).

Adakah cara yang tepat untuk memiliki kemampuan mengendalikan emosi dan mencapai kecerdasan emosi seoptimal mungkin? Ada. Hebatnya lagi cara itu pun bisa mempercepat suatu tujuan yang ingin anda dicapai. Dan sejauh ini, NLP (Neuro-Linguistic Programming) lah jawaban yang tepat untuk mengatasi hal ini. Tentu anda jadi penasaran, hewan apa sih NLP  ini ?

Anda bisa mulai memahaminya melalui tautan ini

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s