Pikiran Bawah Sadar Bersifat Konstruktif

Pikiran bawah sadar bersifat konstruktif, yang mana berarti apapun yang terbiasa kita pikirkan berulang-ulang atau sering menjadi fokus perhatian perasaan kita (memiliki muatan emosi yang intens) akan sangat mudah menjadi kenyataan. Tentu meskipun demikian faktor ekologis (keseimbangan logika) tetap memiliki peran. Namun, dengan adanya prinsip seperti ini, menjadi dasar teknik SFBT (Solution Focus Brief Therapy) ala Imsoo Kim Berg dan Steve De Shazer.

Sekilas tentang SFBT :

Adalah suatu teknik terapi singkat berbasis solusi atau sering disebut juga Constructivist Therapy. Dikatakan demikian sebab diyakini pikiran manusia bersifat konstruktif. Tugas terapis adalah menggali secara singkat sumber daya yang diperlukan bagi klien untuk mengatasi masalahnya melalui exceptional question (pertanyaan pengecualian) dan kemudian mengajak klien melakukan future pacing terhadap perubahan ke depan. Agar klien tetap fokus pada perubahan yang diwujudkan oleh pikirannya (on the track) maka klien pun diberi tugas. Tata urutannya menjadi seperti ini :

Klien mengeluh : “Pak saya orangnya tidak percaya diri”

Terapis menggali lebih jauh : “Saat kapan biasanya rasa tidak percaya diri itu muncul?”

Klien menjawab : “Biasanya saat disuruh tampil ke depan, berbicara di depan orang banyak”

Dalam menggali, bisa diperjelas lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendetailkan apa masalah / keluhannya dapat diketahui secara pasti dan jelas.

Terapis menanyakan tujuan klien :”lalu dengan bertemu saya disini, apa yang anda inginkan?”

Klien menjawab :”Saya ingin lebih percaya diri saat berbicara di depan orang banyak”

Terapis menanyakan indikator keberhasilan terapi : “bisa anda ceritakan gambaran di benak anda, seperti apakah diri anda yang percaya diri di depan banyak orang tersebut? Atau apa tanda0-tanda bahwa terapi ini berhasil?”

Klien menjelaskan indikator / parameter keberhasilan terapi :”saya bisa bicara dengan lugas tanpa terbata-bata, tanpa keringat dingin dan bisa menyampaikan apa isi pikiran saya secara jelas dan mangkus”

Terapis mengajukan exceptional question : “Pernahka anda memiliki pengalaman percaya diri saat berbicara di depan orang banyak dalam hidup anda? mungkin di masa-masa kuliah atau sekolah dulu?”

Seandainya klien menjawab “pernah” maka terapi dilanjutkan ke langkah berikutnya. Jika klien menjawab “belum/tidak pernah” maka terapis menanyakan kepastian yang mana justru pertanyaan tersebut makin memperdalam transderrivative klien. Pertanyaannya menjadi “Apa iya? Sekalipun tidak pernah?”

“Pernah sih pak sewaktu kuliah dulu..sudah lama sekali”

Terapis mengajak klien chunk down (mendetailkan) pengalamannya : “Waktu itu seperti apa diri anda yang percaya diri saat berbicara di depan orang banyak?”

Klien menjawab sesuai apa yang dialaminya

Terapis menanyakan internal map saat terjadinya pengalaman tersebut “Apa yang ada di pikiran anda saat itu sehingga anda mampu percaya diri saat berbicara di depan orang banyak?”

Klien menjawab (yang menjadi solusi bagi masalahnya) :”ya waktu itu saya semangat saja dan anggap semua setara dengan saya”

Terapis :”bisa anda hadirkan kembali pengalaman anda itu di benak anda saat ini dan rasakan apa yang berbeda yang terjadi dalam perasaan anda?, dan bagaimana jika rasa itu anda hadirkan dalam benak dan perasaan anda sambil membayangkan situasi ketika anda berbicara di hadapan banyak orang?”

Pertanyaan di atas adalah salah satu modifikasi agar si klien menabrakkan state yang bermasalah dengan state berisi resource terhadap solusi dengan cara future pacing terhadap situasi ke depan di kondisi yang serupa. Disini saja biasanya beban emosional klien sudah berkurang.

Terapis mengajukan miracle question yag kurang lebih seperti ini : “pada malam hari ini di saat anda tidur, saya pun tidur..di dalam kesunyian pikiran bawah sadar anda mulai merespon apa yang kita diskusikan saat ini dan terjadilah keajaiban itu.. anda secara perlahan berubah menjadi pribadi yang percaya diri, kira-kira apa yang bakal berbeda dalam hidup anda?”

Pastikan klien menjawab dengan sejelas-jelasnya seperti ini :”yang pasti saya senantiasa berdiri dengan tegap dan gagah, bicara lugas dan mungkin bisa jadi lebih lantang, memiliki semangat seperti remaja dulu saat masih kuliah..bla bla bla..”

Terapis memberikan tugas agar klien keep on the track terhadap perubahan :”nah, oleh sebab itu, bersediakah anda mengamati setiap perubahan sekecil apapun itu dalam hidup anda dari hari ke hari? Dan jika perlu anda catat dengan baik perubahan-perubahan kecil itu?”

Jika klien menjawab bersedia, maka terapi sebenarnya sudah cukup dan kita memberikan ruang bagi pikiran bawah sadar klien untuk menciptakan perubahan tersebut. Lalu apa sih yang membuat terapi singkat ngobrol-ngobrol biasa seperti ini memiliki keberhasilan tinggi? Dan malah tidak ditidurkan seperti dalam terapi hipnosis secara umumnya?

Mari kita cermati :

  1. Pikiran manusia bersifat konstruktif. Ketika klien memiliki sumber daya-nya sendiri untuk mencipatakan perubahan maka selaku client centered hypnotherapist sumber daya itulah yang harus digunakan. Ketika klien terkondisikan untuk fokus terhadap solusi tersebut, maka yakinlah, perubahan itu pasti tercapai. Demikian juga sebaliknya ketika kita senantiasa fokus pada apa yang kita takutkan maka secara pasti emosi negatif itu pun selalu hadir dan menjadi masalah psikis misal anxiety disorder atau paranoia. Dalam SFBT terapis hanya perlu mengganti fokusnya secara halus dan tanpa terkesan menggurui.
  2. Pemberian tugas adalah agar klien keep on the track, minimal selama 3 minggu agar perilaku baru tersebut terinstal secara sempurna. Jika tugas ini dijalani dengan baik oleh klien, secara menakjubkan klien akan menemukan dirinya benar-benar berubah!
  3. Hipnosis tidak harus selalu ditidurkan. Kondisi trance bisa tercipta ketika terapis mengajukan pertanyaan demi pertanyaan sedemikian rupa sehingga klien melakukan penggalian database di memori-nya, lalu semakin fokus ke dalam pengalamannya, maka itulah hipnosis. Kondisi trance yang tercipta adalah transderrivative search, yaitu trance akibat proses berfikir klien akibat dari menggali pengalamannya sendiri. Secara spontan klien masuk ke kondisi regresi usia. Anda yang menggeluti hipnosis pasti tahu kan regresi jika menggunakan tolok ukur Davis -Husband berada di skala berapa?
  4. Kemudian pertanyaan miracle question yang sesungguhnya adalah menciptakan confuseness pikiran kritis sehingga pikiran bawah sadar menangkap makna yang ingin kita sampaikan secara tersirat. Lalu pemberian tugas agar terjadi proses future pacing. Future pacing sendiri adalah salah satu fenomena deep trance. Hebatnya lagi, deep trance ini bisa kita kondisikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang memicu kapan secara spontan (sebagai anchor) future pacing terjadi.

Nah, mari beralihlah dari hipnoterapis yang pinternya hanya menidurkan menjadi hipnoterapis yang cerdas memahami bahwa fenomena trance itu sebenarnya mudah dibuat dan dikondisikan untuk kemaslahatan para klien.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s