Cara Merancang Script Sugesti Post Hypnotic

Sebagai seorang praktisi hipnoterapi (bukan stage hypnosis) anda tentu paham bahwa sugesti-sugesti yang dilontarkan selain mengikuti seni atau kaidah semantik tertentu, juga bukan sembarang disusun begitu saja melainkan ditata berdasarkan cara kerja filter mental klien. Dan tentu saja jika dilihat dari sudut pandang ini, script sugesti pada seorang klien sangat personal dan belum tentu sesuai jika diterapkan pada klien yang lain. Mengapa demikian? Sebab, ketika script sugesti dirancang, hipnoterapis harus terlebih dahulu menggali 3 hal berikut :

  1. Belief system klien
  2. Value klien terkait dengan masalah dan outcome yang ingin dicapai
  3. Primary System (modalitas dominan) klien

Bagaimana cara terapis menggali 3 hal di atas? Bisa dilakukan melalui intake interview dan melalui pengamatan langsung terapis. Oleh sebab itu, terapis harus memiliki kepekaan inderawi (sensory aqcuity) yang terlatih. Untuk melatihnya maka terapis harus terlebih dahulu mempelajari dan menguasai NLP.

Dari 3 hal tersebut, maka terapis sudah mulai merancang script sugesti yang memiliki muatan sebagai berikut :

Belief : adalah segala sesuatu yang diyakini klien sebagai suatu kebenaran yang mana keyakinan ini harus mendukung tercapainya tujuan dan sifatnya personal (berasal dari klien sendiri).

Cara menggalinya adalah dengan pertanyaan :

“mengapa ini penting bagi anda?”

“mengapa hal tersebut harus anda miliki?”

atau dapat juga dengan pertanyaan :

“bagaimana cara anda memandang hal ini”

Value : adalah nilai atau makna yang didapat dari belief tersebut. Semakin kuat intensitas emosi yang tergantung dalam value tersebut, maka semakin kuatlah dorongan / motivasi untuk mencapai tujuan yang dimiliki. Value ini pun harus berasal dari klien sehingga sugesti yang ditanamkan akan bersifat permanen dan ekologis.

Cara mengelisitasi value adalah dengan pertanyaan

Apa artinya ini (belief) bagi anda?”

Apa yang anda dapatkan dari keyakinan tersebut?

Behavior. Yaitu perilaku yang diharapkan. Dalam menyampaikan perilaku tersebut sesuaikan dengan konteks yang diharapkan klien, misal percaya diri ketika berbicara di depan kelas atau ketika melakukan presentasi di hadapan atasan. Percaya diri adalah outcome yang ditentukan klien. Maka percaya diri menjadi behavior yang hendak kita tanamkan pada diri klien. Agar lebih mudah diterima dan masuk akal bagi klien, maka ketika dihadapkan dengan konteks, maka perjelas dengan menceritakan gambaran konteks. Yang mana gambaran tersebut memuat unsur-unsur modalitas V-A-K dan mengutamakan primary system (modalitas dominan dari diri klien).

Lalu ciptakan Rule. Formulasi rule adalah “ketika anda berada pada ……(konteks), maka anda lakukan dengan …… (behavior)

Agar lebih jelas perhatikan contoh di bawah ini. Kita asumsikan primary system klien Visual – Kinestetik.

Terapis telah melakukan intake interview dan telah terjalin kesesuaian dengan klien. Terapis memiliki kecakapan bertanya kurang lebih seperti dialog di bawah ini :

Terapis : “dengan bertemu saya disini, lalu apa yang anda inginkan atau anda harapkan untuk terjadi pada diri anda?”

Klien : “saya ingin percaya diri pak?”

Terapis : “bisa anda gambarkan seperti apa diri anda yang telah percaya diri?”

Klien : “saya bisa bicara dengan perasaan tenang dan lugas di hadapan atasan saya, saya terlihat begitu semangat dan menyenangkan untuk diperhatikan oleh siapapun yang mendengarkan presentasi saya”

Terapis : “selain itu, apa lagi?”

Klien : ‘saya tidak lagi keluar keringat dingin atau pun gemetaran.. semua tampak beres”

Terapis :”lalu apa lagi?”

Klien : “hanya itu pak..”

Terapis : “apakah anda pernah punya pengalaman percaya diri?”

Klien : (berpikir sejenak) “ada pak, ketika saya masih SMP pernah disuruh tampil baca puisi dan saya bisa melakukannya dengan rasa percaya diri”

Terapis : “apakah ada lagi pengalaman lebih baik daripada itu?”

Klien : “tidak ada lagi pak”

Terapis : “bisa anda gambarkan seperti apa diri anda ketika tampil baca puisi dan bisa melakukannya dengan rasa percaya diri itu?”

Klien :”saya terlihat tenang, sorot mata saya bersemangat, tubuh saya tegak, tegap dan semuanya memperhatikan apa yang saya tampilkan di panggung itu”

Terapis : “apa yang anda rasakan ketika itu terjadi?”

Klien : “penuh semangat dan tenang pak!”

Terapis :”menurut anda, mengapa percaya diri itu penting”

Klien : “sebab dengan percaya diri lah ucapan kita lebih diperhatikan oleh orang lain” (klien mengutarakan belief)

Terapis :”bagus, lalu apa lagi?”

Klien : “penting bagi semua orang untuk percaya diri jika ingin maju dalam karirnya”

terapis : “lalu apa lagi?”

Klien :”saya rasa hanya itu pak”

Terapis : “lalu apa artinya bagi anda?”

Klien : “dengan kepercayaan diri yang maksimal maka memudahkan saya untuk terus maju dalam karir saya pak” (value)

Terapis :”kira-kira menurut anda, modal apa yang sudah anda miliki untuk bisa mencapai perubahan yang anda inginkan?”

Klien : “hmmm.. saya berpendidikan.. “

Terapis : “menurut anda mengapa atau bagaimana pendidikan dapat membantu anda percaya diri?”

Klien : “semakin tinggi pendidikan ya semakin cerdas dalam menghadapi situasi kan pak?” (belief pendukung)

Terapi :”bagus..kira-kira apa lagi?”

Klien : “penampilan saya nggak jelek-jelek amat..”

Terapis : “benar..menurut anda bahasa lain yang lebih positif untuk menggambarkan nggak jelek-jelek amat?”

Klien :”lumayan menarik pak”

Terapis : “baik”

(pada terapi sesungguhnya terapis harus menggali sebanyak mungkin belief pendukung belief outcome, karena ini contoh maka saya batasi).

Terapis kemudian melanjutkan dengan terapi yang tepat bagi klien. Jika dicurigai ada trauma dari masa kecil, maka dapat lakukan teknik Informed Child Technique kemudian Forgiveness Therapy dan Emotional Release. Lalu sebelum TOTE Model, terapis membacakan script sugesti post hypnotic yang telah dirancangnya berdasar informasi yang didapat. Script tersebut setidaknya sebagai berikut :

“Dengarkan sugesti dari saya…. (jeda) …. Anda memilih untuk percaya diri….. (jeda), Anda percaya diri ketika berbicara di depan orang banyak… (jeda) dan …(jeda)…ketika melakukan presentasi di hadapan atasan anda… (jeda)… Anda memutuskan untuk percaya diri…(jeda).. sebab…(jeda).. dengan percaya diri lah ucapan Anda lebih diperhatikan oleh orang lain…(jeda) ..yaitu atasan anda…(jeda) atau siapa saja khalayak umum yang mendengarkan anda…(jeda)… Dengan rasa percaya diri seperti itu…(jeda) membuat anda menjadi mudah menggapai kemajuan demi kemajuan dalam karir anda…(jeda) … anda memutuskan untuk lebih percaya diri mulai saat ini dan seterusnya,..(jeda).. apalagi dengan kecerdasan anda..(jeda)…yang mana anda telah meraih level pendidikan yang memadai untuk itu..(jeda)…penampilan anda pun lumayan menarik..(jeda)

Anda perhatikan bagaimana mereka…(jeda) orang-orang yang mendengarkan anda…(jeda) atasan-atasan anda…(jeda) yang terpukau …(jeda) juga terkesan dengan apa yang anda sampaikan…(jeda) bisa anda bayangkan bagaimana anda ketika itu terjadi…(jeda)..anda terlihat begitu tenang…. dan anda merasa tenang ketika menatap wajah mereka…bahkan mata mereka satu persatu…(jeda) dan anda tetap merasa tenang…karena demikianlah adanya… anda tenang… berbicara lugas.. dan anda sendiri pun takjub…(jeda) kemana larinya si keringat dingin yang biasanya hadir ketika anda melakukan presentasi? …(jeda) oh,…mereka telah pergi… diganti dengan bicara lugas… tenang…(jeda) dan kharismatik…

Maka…mulai sekarang dan selanjutnya, ketika berbicara di depan orang banyak atau ketika melakukan presentasi di hadapan atasan anda, anda melakukannya dengan rasa percaya diri.. (rule) dan…dengan mendengarkan sugesti saya ini, ketika anda membuka mata nanti, anda ijinkan semuanya terjadi… bagusnya lagi…(jeda) anda tak perlu bersusah payah…hanya ijinkan ini terjadi.. dan amati..bahkan catat setiap kemajuan sekecil apapun yang anda raih.. apakah anda bersedia (setuju)? …(jeda) Jika bersedia (setuju) silakan anggukkan kepala?

Karena demikianlah kenyataannya..”

Sugesti tidak boleh dibuat asal-asalan. Sugesti harus bersifat ekologis dengan terlebih dahulu menggali belief dan value klien. Script sugesti dapat dibuat lebih panjang lagi agar klien semakin masuk ke dalam kondisi trance..atau diucapkan berulang kali dengan memperjelas behavior dalam konteks yang diinginkan.

Masih belum jelas? Tenang… keterampilan ini dapat anda pelajari di kelas pelatihan Neo Hypnosis yang saya selenggarakan>

About hujairin

subconscious explorer

One thought on “Cara Merancang Script Sugesti Post Hypnotic

  1. Ping-balik: CARA MENEMUKAN DAN MENGATASI MENTAL BLOCK | iosictlcs-b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s