Balada Para Pembeli Bubur

Di jalan ini, ada salah satu pojok dimana para warga biasa membeli jajanan. Dan sepertinya sudah menjadi kebutuhan warga sekitar untuk jajan atau sekedar kongkow-kongkow. Memang tidak semua jajanan enak atau pas di lidah. Tetapi karena semua sudah terbiasa, hal tersebut tidak menjadi soal lagi, sebab, membuat penganan sendiri belum tentu bisa lebih enak. Bisa jadi malah rasa atau bentuknya lebih hancur. Namun tetap ada saja yang nyinyir sesekali jika ada penjual yang dinilainya tidak becus dalam melayani atau rasa makanan yang tidak enak.

Alkisah ada jenis jajanan baru disana meskipun sebenarnya makanan ini terbilang makanan yang sudah sangat lumrah dan sudah ada sejak dahulu kala. Kacang ijo.. Namun makanan jenis ini baru ada yang jual di pojokan jalan tersebut. Tentu saja karena baru ada yang jual, membuat para warga ingin mencicipi atau menjajal rasanya.

Oh ya, sebelumnya, Pak Paiman si penjual bubur ini adalah pedagang telur. Mungkin yang lebih membuat para warga penasaran adalah bukan pada rasa bubur kacang ijonya, tetapi Pak Paiman itu sendiri. Konon beredar kabar dari mulut ke kuping dan lanjut ke otak, lalu setelah dicerna dikit di otak berlanjut lagi dari mulut ke kuping (kalau mulut ke mulut berarti kan ciuman) bahwa Pak Paiman ini adalah pedagang telur yang sukses. Suksesnya karena selain jujur dan bersahaja, ia juga tak sungkan-sungkan mengantarkan sendiri pesanan telur meski hanya setengah bahkan seperempat kilo ke pelanggannya. Meski pelanggan tersebut tinggal di ujung kampung atau bantaran kali. Dan dengan citra dirinya seperti itu ia pun lekas menjadi terkenal. Keterkenalan ini dimanfaatkan betul oleh Pak Paiman sehingga di momen yang pas ia masuk ke pangsa perdagangan beras. Begitu juga ketika berdagang beras, ia manfaatkan momen demi momen mencitrakan diri sebagai pedagang beras yang baik. Bahkan terlalu baik untuk mau melakukan suatu pekerjaan yang bisa didelegasikan ke kurir, tukang becak atau siapa pun yang sebenarnya memang tugasnya.

Tapi tak mengapa bagi Pak Paiman, yang penting setelah itu lebih banyak warga yang mengenal dirinya.

Dan kali ini ia jualan bubur. Tapi ternyata berjualan bubur tak semudah mengantar telur atau berdagang beras. Ia cukup percaya diri.. bahkan saking percaya dirinya tidak lagi mengukur kapan pas-nya bubur itu disajikan.

“Puihh…Pak Paiman,…bubur ini panas sekali, seperti melepuh lidahku!” jerit seorang pelanggan.

Pak Paiman hanya melongo dan menjawab “ya..dihembus-hembus dulu tooh”

Tapi sayang si pelanggan tidak terima. Tak hanya satu, bahkan dua, tiga, empat..hingga belasan pelanggan merasa dikecewakan. Ada yang terang-terangan melabrak Pak Paiman, ada yang sampai menjungkirbalikkan gerobak dagangannya.

Ada yang bercerita sedemikian harunya mengenai penderitaannya bagaimana bubur yang masih panas itu telah membuat bibir dan lidahnya melepuh.

Ada yang bercerita ke warga-warga yang lain agar mereka turut prihatin atas ‘penderitaan’ tersebut.

Ada juga yang bercerita tidak lain agar para warga lainnya tidak merasakan kesusahan yang sama seperti yang dialami dirinya.

Tetapi, seperti itulah Pak Paiman. Ia berkilah, “kan kalian sendiri yang mau datang kesini untuk membeli bubur? dan beginilah caraku menyajikan”

Hanya seorang tua di seberang jalan yang senantiasa mengamati dari kejauhan. “Andai saja semua pelanggan sedikit lebih sabar menyantap bubur yang disajikan itu dengan membiarkannya dingin sejenak..toh mereka tidak rugi, nanti juga bubur itu dingin sendiri”

Dan sekarang kepalang bubur itu sudah tidak nikmat lagi untuk disantap.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s