Menyadari Keberadaan Pikiran Bawah Sadar

Teori tentang pikiran sadar dan pikiran bawah sadar sudah lama dikemukakan oleh Sigmun Freud dan Carl Jung. Meskipun keduanya memiliki pendapat yang berseberangan namun teori tentang pikiran sadar dan bawah sadar sudah sangat mendunia. Di dalam hipnosis dan hipnoterapi, teori ini sangat mutlak untuk dipahami, terutama untuk menjelaskan makna “memasuki alam bawah sadar”. Anda tentu sering mendengar ahli-ahli hipnosis mengatakan pada klien atau subjek yang sedang masuk kondisi hipnosis dengan kalimat kurang lebih seperti ini “rilekslah semakin dalam dan masuk ke alam bawah sadar anda lebih dalam lagi..”

Masih banyak yang bertanya-tanya, “Apakah dalam kondisi hipnosis kita kehilangan kesadaran?”. Sebelum saya jawab, saya ajak untuk memahami makna ketidaksadaran terhadap pikiran bawah sadar ini. Pikiran bawah sadar disebut sebagai pikiran bawah sadar sebab cara kerjanya tidak disadari oleh pikiran bawah sadar dan bukan berarti tidak sadar. Mari kita kupas satu per satu dengan memperhatikan hal-hal berikut  :

  1. Saat anda sedang mengendarai kendaraan, di hadapan anda ada kendaraan lain dan jaraknya makin dekat. Atau jarak anda ke tikungan di depan tinggal 6 meter, anda harus berbelok jika tidak ingin menabrak pembatas jalan. Cara kerja otak anda tidaklah mengintruksikan otot-otot anda satu per satu misal; “otot tangan..pindahkan gigi persneling, mulailah dari pergelangan tangan memegang tuas perseneling dengan cengkeraman sedang saja, otot kaki, kurangi injakan di pedal gas..kemudian tekan rem perlahan.. mata tetap awasi di depan, sesuaikan kontraksi otot retina dengan jarak..” keburu nabrak!
  2. Saat anda bermain badminton, lawan anda melakukan smash dan anda harus menangkis smash terseebut. Apa jadinya jika anda harus menyadari satu persatu gerakan yang harus anda lakukan dengan cara “aku harus mundur sedikit ke belakag..kaki kanan melangkah duluan..kaki kiri mundurkan setengah langkah, lalu putar tubuh 45°…otot punggung siap lakukan gerakan menunduk, otot bahu siap memutar lengan..dan otot protaktor putar raket di kemiringan yang sesuai..” alangkah capeknya.
  3. Demikian juga saat saya mengetik artikel ini. Ada 152 otot yang membungkus tulang, dan kemudian menjadi lengan, tangan dan jari. Kesadaran saya hanya berkata “ saya ingin mengetik..” maka semua komponen bergerak sedemikian rupa mengikuti keinginan pikiran sadar saya. Anda bayangkan jika saya harus fokus pada masing-asing otot dan mengatakan “Baiklah, otot nomor 1 silahkan bergerak. Lalu otot nomor 3 sampai 12 silahkan melakukan tugas. Otot nomor 2, bekerjasamalah dengan otot 37 sampai 88 lakukanlah tugasmu. Sisanya, silahkan mengikuti sampai ujung jari bergerak.” . Kesadaran saya hanya membuat saya berpikir dan melakukannya.

Demikian juga saat menyetir dan bermain badminton. Niatkan untuk mengurangi kecepatan dan berbelok, maka fungsi otomatis yang telah terlatih akan menggerakkan otot-otot yang terlibat untuk mengendalikan arah dan kecepatan mobil. Niatkan untuk menangkis smash lawan dan secara otomatis otot-otot tubuh serentak saling berkoordinasi melakukan gerakan yang kita inginkan. Hanyalah butuh NIAT dan KESADARAN.

Terkadang masalah terminologi ‘tidak sadar’ pun memiliki makna harafiah yang bukan berarti tidak sadar seperti pingsan! Simak kalimat berikut :

ia tak menyadari, perilakunya telah mencoreng nama besar keluarganya

Bandingkan dengan

ia tak menyadari, tangannya hampir saja kena puntung rokok yang masih menyala

Kalimat pertama mengandung makna kesadaran yang berkaitan dengan moral awareness, sedangkan yang kedua makna kesadaran secara fisik terkait dengan perhatian terhadap sesuatu keadaan. Dan jauh berbeda pula dengan kalimat di bawah ini :

pukulan telak di rahangnya membuat ia tergeletak tak sadarkan diri..”

Nah yang terakhir ini kehilangan kesadaran yang benar-benar tak sadar akibat kelumpuhan sistem syaraf alias pingsan. Dan perlu anda sadari bahwa hipnosis tidak sama dengan pingsan!

Dalam hipnoterapi,  kondisi hipnosis diciptakan untuk menggiring kesadaran seseorang masuk ke kondisi rileksasi yang dalam sehingga lebih sadar terhadap input informasi yang masuk.

Simak baik-baik analogi berikut :

Anda berjalan di sebuah perpustakaan besar dan tidak ada cahaya lampu. Anda dibekali senter sehingga dengan senter tersebut anda dapat melihat secara terarah apa yang anda ingin lihat. Di luar daripada yang dapat anda lihat bukan berarti tidak ada; ada tetapi di luar fokus cahaya senter, tidak kelihatan karena di luar dari jangkauan cahaya.

Aha, jadi itulah soalnya : FOKUS.

Wilayah yang diterangi senter disebut sebagai pikiran sadar. Bagian yang tidak diterangi cahaya dan jauh lebih luas lagi, itulah wilayah alam bawah sadar; ada tetapi di luar fokus kesadaran anda. Saat anda rileks, rentang fokus anda akan lebih luas dan lebih lama sehingga apa yang tadinya tidak anda fokuskan dapat anda amati dengan baik. Kenangan-kenangan masa lalu yang terlupakan dapat dikenang kembali. Program-program pikiran yang seringkali melintas berseliweran tanpa sempat anda perhatikan, bisa anda amati secara lebih detail. Bahkan hebatnya lagi, detak jantung anda pun dapat anda kontrol dalam kondisi relaksasi ini. Dan ini yang digunakan dalam hipnoterapi.

Jadi “sadar” dan “tidak sadar” adalah fenomena fokus dari pikiran di suatu waktu. Ketika mengetik, ketika mengendarai mobil atau ketika main badminton, pikiran sadar kita hanya berfokus pada ‘gambaran besar’nya dari apa yang kita maksud agar otot-otot kita bekerja. Nah disinilah terdapat PORSI pembagian peran. Yang berjalan dan bekerja di ‘belakang layar’ disebut pikiran bawah sadar dengan fokus pada gambaran besar, sedangkan yang bekerja di ‘depan layar’ disebut pikiran sadar dan mampu memuat segala informasi sedetil-detilnya. Misal kita ingin menangkis smash, pikiran sadar kita mengambil keputusan untuk melakukan gerakan menangkis. Pikiran bawah sadar menggerakkan tubuh, mengkoordinasikan gerakan seluruh otot bahkan (jia anda memang terlatih) hingga mampu secara presisi menggerakkan tangan pada posisi dan kecepatan yang pas dalam menangkis smash tersebut. Maka dari konsep seperti ini orang pun mengembangkan modelnya berupa teori gunung es.

gunung es

Pikiran kita hanya fokus pada sedikit informasi dari apa yang ditangkap oleh panca indera dan dari sumber database di dalam diri kita sendiri (kenangan / ingatan / memori). Bagian yang sedikit itulah puncak dari gunung es, sebagai sesuatu yang tampak dan disadari. Sedangkan bagian yang tidak disadari diibaratkan sebagai bagian bawah gunung es yang berada di bawah permukaan, kita sebut sebagai bawah sadar. Tidakkah anda menyadari seandainya kita aware (menyadari) semua keberadaan dan pikiran kita dipaksa menampung semua informasi dari mata yang begitu awas dan tajam serta dengan jelinya menangkap sekian milyar informasi sampai ke titik-titik terkecil yang memantulkan cahaya ke mata sedetil-detilnya?   Apa jadinya jika telinga kita sangat awas mendengar semua bunyi, memperhatikan semua suara dari yang sekecil-kecilnya hingga apapun yang berderik dan berdengung? Kita bisa gila!

Inilah kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Di saat panca indera kita merekam banyak informasi dari apa yang disadari oleh pikiran sadar kita, critical area kita memfilter input informasi apa yang menurutnya yang penting-penting saja untuk diperhatikan (bagian mana untuk mendapat fokus). Kita pun akhirnya memiliki kecenderungan untuk mendistorsi, menghapus dan menggeneralisasi input informasi yang masuk.

Begitu pun cara kerja hipnosis, teknik induksi pada umumnya membuat mata tertutup sehingga  telinga bekerja di latar depan, dan pikiran kita mengembangkan sendiri mata (sensor visual) dan rasa-nya (kinestetik)  di latar belakang. Dengan telinganya, ia sangat sadar,  dan indera lain dibuat tidak sadar  akan dunia luar. Sekali lagi, tidak sadar yang bukan pingsan! Sang telinga berfokus pada “dunia luar” alias sadar, dan mata serta rasa fokus pada “dunia dalam”, sehingga tidak sadar pada “dunia luar”. Sederhana sekali kan? Selanjutnya sugestifitas klien serta otoritas hipnotis/hipnoterapis mengambil andil lainnya dalam proses tersebut sehingga terjadi trance.

Dalam stage hypnosis, yang dimanfaatkan adalah kondisi flight atau kondisi dimana kesadaran bersembunyi di alam bawah sadar anda. Dalam stage hypnosis menggunakan teknik yang berbeda dengan hipnoterapi. Itulah sebabnya stage hypnotist tidak menggunakan relaksasi progresif melainkan shock induction. Cermati ini dan jangan gunakan shock induction dalam hipnoterapi.

Baca juga : memahami fungsi dan peran pikiran sadar dan bawah sadar

About hujairin

subconscious explorer

3 thoughts on “Menyadari Keberadaan Pikiran Bawah Sadar

  1. Ping-balik: Mengenali Fungsi dan Peran Pikiran Sadar dan Bawah Sadar | hujairin's

  2. Ping-balik: Mengenali Fungsi dan Peran Pikiran Sadar dan Bawah Sadar | Hypno-Pedia

  3. Ping-balik: CARA MENEMUKAN DAN MENGATASI MENTAL BLOCK | iosictlcs-b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s