Reframing; Seni Membingkai Ulang Pikiran

The problem is not the problem..but your attitude about the problem is the problem” Captain Jack Sparrow. (Masalah bukanlah masalah, tetapi sikap anda terhadap masalahlah yang menjadi masalah sesungguhnya).

“Masalah tidak akan menjadi masalah selama perasaan anda tak bermasalah”

Dalam hidup ini, sudah menjadi suatu kenyataan bahwa tak akan pernah habis dirundung masalah. Sungguh suatu kesialan jika mengharap hidup yang sempurna sementara sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa hanya Allah lah yang Maha Sempurna. Jika kita sedikit mau membuka diri dan menerima kenyataan, setiap orang pasti punya masalah. Tetapi kenapa kualitas hidup orang satu dengan yang lainnya bisa berbeda-beda? Ada yang tampak bahagia sekali hidupnya, ada yang biasa-biasa saja tapi ada juga yang seolah tak pernah ada habisnya diterpa masalah bahkan boleh dikatakan bertubi-tubi? Dan tak kurang-kurang juga akhirnya banyak yang memilih jalan pintas bunuh diri (meski bukan juga suatu jalan keluar sebab sama saja membawa masalah ke alam keabadian).

Rahasianya ada di sikap dan persepsi (cara pandang) terhadap masalah tersebut. Sehingga ada yang sedemikian mudahnya move on, lalu memilih senantiasa bersyukur, ada juga yang sibuk mengumpat lalu terpuruk dalam derita berkepanjangan.

Dalam NLP kita belajar Reframing. Ditilik dari asal katanya Re = kembali, frame = bingkai, maka reframing bermakna membingkai kembali atau membingkai ulang. Apanya dibingkai?

Para bijak sejak jaman dahulu telah mengatakan bahwa setiap kejadian di dunia adalah netral dan memang terjadi karena harus terjadi. Namun cara pandang kitalah terhadap kejadian tersebut yang memberikan penilaian apakah kejadian tersebut positif atau negatif. Singkat kata, setiap apa yang kita alami sebenarnya netral tetapi cara pandang kita yang memberinya makna sebagai pengalaman baik (positif) atau buruk (negatif). Frame atau bingkai pikiran adalah cara pandang kita terhadap kejadian/pengalaman. Jadi, jika ada suatu peristiwa, kita harus memiliki kesadaran dan kemauan untuk selalu dapat membingkainya dengan cara pandang positif.

Sebagai contoh; misalkan saja anda sedang bepergian dan tiba-tiba ban mobil anda bocor. Disini, anda mungkin merasa dongkol karena anda menganggap kejadian itu sebagai musibah maupun kesialan. Akibat peristiwa tersebut, anda terlambat menghadiri suatu acara. Jelas anda tidak bisa memutar waktu untuk menghindari hal tersebut. Tapi anda bisa membingkai ulang kejadian tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Anda bisa tersenyum penuh syukur apabila anda menganggap kejadian tersebut sebagai berkah. Dan berpikir, justru karena kejadian itulah anda diberi kesempatan untuk sedekah kepada tukang tambal yang sedang mencari nafkah. Sehingga kita kembali pada kesimpulan di atas, “The problem is not the problem..but your attitude about the problem is the problem”.

Sedari itu, jika ada masalah maka lakukan hal berikut :

 1. Sadari ada perasaan yang tidak beres.
2. Tanyakan pada diri sendiri, “Hal baik apa yang bisa saya ambil dari kejadian ini?”
3. Lihat dari sudut pandang yang memberdayakan (+).

Demikianlah secuil tulisan dari saya mengenai reframing. Semoga bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat selalu berprasangka baik dan bersyukur. Dan semoga senantiasa dilimphai keberkahan menyertai hidup kita.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s