Belajar dari Badramandawata.

Hampir semua orang yang usianya seangkatan saya dan lebih tua lagi pasti mengenal sosok pahlawan fiktif Badramandawata alias Si Buta dari Goa Hantu. Alkisah Si Buta ini berhasil mengembangkan kemampuan sensory acquity-nya, terutama keempat indera-nya kecuali penglihatan. Bahkan konon Si Buta sengaja membutakan matanya sehingga pendengarannya lebih tajam, penciumannya bak anjing pemburu, demikian pula peraba dan perasaannya. Saya nggak tahu, mungkin demikian juga dengan indera pengecap rasanya so Si Buta ini mengerti cara membedakan pempek yang pakai ikan segar dengan pempek yang pakai ikan sudah lebih dari sehari disimpan.

Nah pemirsa, sekian lama mengamati sosok Badramandawata ini saya malah berasumsi; jika saja dia memanfaatkan dan menjadikan semua inderanya peka..tentu akan lebih hebat lagi. Tetapi ya tentu suatu cerita memiliki alasan dan maksud tersendiri sesuai maunya yang punya cerita. Yang perlu disadari bahwa ternyata penghubung atau jembatan antara realita eksternal alias dunia luar dengan realita internal (diri kita) adalah panca indera. Jika kelima indera ini nggak berfungsi, artinya tidak ada lagi penghubung antara dunia di luar diri kita dengan ‘dunia’ yang ada di dalam diri kita. Kesimpulannya? Ntar…

Dua hari yang lalu saya berkunjung ke kantor seorang teman bernama Andrey. Ia seorang notaris. Saya berkonsultasi dan meminta pendapat profesionalnya mengenai syarat-syarat pembuatan akta perusahaan dan juga diberi banyak masukan tentang berbagai macam core business. Sebelumnya saya mendemonstrasikan bagaimana proses terapi ringan (yang sebenarnya tidak ringan) dengan cara yang sederhana menggunakan teknik-teknik NLP. Yang pertama saya demonstrasikan pada pegawainya sebut saja bernama Ike. Ike phobia terhadap jarum suntik. Menurut pengakuan Ike, seumur hidupnya ia tidak pernah disuntik dan tidak akan pernah mau disuntik. Kalau diukur menurut skala perasaannya sendiri, ia berada di ‘angka tertinggi’ level ketakutan. Nah, ini kan repot kalau suatu saat ia menikah, hamil dan akan melahirkan. Bagaimana caranya dokter menyuntikkan anastesi jika ia phobia pada jarum suntik.

Teknik yang saya lakukan hanya mengotak-atik submodalitas-nya saja. Tidak sampai 15 menit phobianya hilang. Ada teknik lain yang disebut sebagai fast phobia cure atau movie theatre namun tak saya lakukan. Mengotak-atik submodalitas adalah dengan cara, saya menggiring Ike untuk melakukan trans derrivative search yaitu dengan cara bertanya lisan, langsung tentang apa dan bagaimana ia mengalami phobia jarum suntik. Lalu saya minta ia membayangkan jarum suntik, kemudian saya elisitasi dengan menanyakan pertanyaan berikut; jika ia membayangkan jarum suntik apakah gambarannya berwarna atau hitam putih, gelap atau terang, fokus atau tidak fokus, gambarnya diam (seperti foto) atau bergerak (seperti film), berbingkai atau luas tanpa bingkai, jauh atau dekat, ada atau tidak ada suara-suara yang menyertai. Saat ia menjawab misal, gambarnya berwarna, saya meminta dia mengubah gambarnya menjadi hitam putih..demikian seterusnya. Lalu setelah sumbodalitas tersebut selesai diacak-acak dari gambaran aslinya, saya minta hilangkan. Dan..berhasil, Ike tidak takut lagi jarum suntik. Saya lakukan future pacing, kedepan jika Ike menghadapi jarum suntik, apakah masih ada rasa takut? Jawaban Ike; tidak ada! Semudah itu? Ya.

Apa yang saya lakukan tentu membuat teman saya Andrey penasaran. Apakah hipnoterapi dan NLP memakai kuasa kegelapan atau murni suatu seni terhadap intervensi progra, pikiran secara modern? Mengapa seseorang dapat berubah secepat itu? Demo kedua saya lakukan pada pegawainya bernama Ika. Ika kalau dilihat dari ‘tampang’ lumayan manis tetapi sangat tidak percaya diri. Saya lakukan new behaviour generator versi kedua yaitu dipadukan dengan eye accessing cues. Setelah future pacing, alhamdulillah, sudah terlihat perbedaan dari raut muka si Ika.

Setiap pengalaman atau pembelajaran yang kita alami di dalam hidup akan tersusun dan memiliki struktur tersendiri di alam pikiran kita. Manusia belajar dan terhubung dengan dunia luar melalui panca indera. Mata untuk visual, telinga untuk auditori, hidung untuk olfactory (penciuman), lidah untuk gustatory atau pengecapan rasa dan yang terakhir sebagai sensor kinestetik oleh kulit. Setiap manusia unik, karena akan mengembangkan modalitas pembelajaran melalui panca indera mana yang lebih dominan pada dirinya. Bagi Badramandawata alias si Buta dari Goa Hantu tentu ia lebih menggunakan auditori, kinestetik dan olfactory-nya. Setiap modalitas memiliki bagian-bagian yang disebut sebagai submodalitas. Submodalitas juga bersifat antara dua; analog atau digital. Ciri submodalitas untuk visual misalnya : warna atau hitam putih, fokus atau tidak fokus, jumlah gambar, bingkai atau tidak berbingkai, ukuran, terang atau buram, asosiasi atau disasosiasi.

Ajaibnya, setiap gambaran tersebut memiliki ciri berdasar pada emosi yang melekat pada kejadian pengalaman/pembelajaran atau objek tersebut. Contohnya begini, silakan dicoba sendiri. Bayangkan gambar seseorang yang paling anda tidak sukai (misal karena dia penjahat, kriminal atau karena pernah merugikan anda). Perhatikan di dalam benak anda, apakah gambarnya warna atau hitam putih? Berapa jumlah gambarnya? Anda terasosiasi di kejadian tersebut atau terdisasosiasi? Ada batas atau bingkai, atau luas tanpa bingkai? Terang atau buram? Bergerak atau diam? 3 dimensi atau datar? Dsb.. lalu catat. Kemudian bayangkan gambar seseorang yang anda cintai misal pasangan kita. Perhatikan pula di dalam benak anda, apakah gambarnya warna atau hitam putih? Berapa jumlah gambarnya? Anda terasosiasi di kejadian tersebut atau terdisasosiasi? Ada batas atau bingkai, atau luas tanpa bingkai? Terang atau buram? Bergerak atau diam? 3 dimensi atau datar? Lihatlah, apakah ada perbedaan dengan gambar yang pertama? Inilah yang disebut sebagai “semua pengalaman tersimpan di alam pikiran tersusun dan memiliki struktur tersendiri di alam pikiran. Hebatnya lagi, jika submodalitas tersebut kita acak-acak, maka emosi yang menyertainya akan ikut terlepas dalam hitungan menit saja. Itulah rahasia mengobati phobia yang sering dipraktekkan oleh banyak terapis. Tetapi, saya sangat menganjurkan agar cara melepas phobia ini dilakukan hanya oleh ahli yang sudah kompeten di bidangnya. Never do it at home!

Ada faktor utama yang menentukan seseorang berperilaku tertentu misal tidak percaya diri. Faktor itu adalah neuro logical level disingkat NLL. NLL ini adalah lingkungan (environment), kemampuan (capability), perilaku (behaviour), identitas (identity), keyakinan dan nilai-nilai diri (belief and values) dan yang tertinggi adalah spiritual. Sayangnya banyak manusia tidak mengenal NLL ini dalam memetakan potensi atau kelemahan dirinya. Banyak yang sadar bahwa dirinya kurang, sudah berusaha keras untuk berubah dan berkembang lebih baik namun semakin dicoba malah semakin stress. Kenapa? Ya karena dia tidak tahu persis letak kelemahannya dimana. Pada Ika saya tidak memberinya pelajaran atau nasihat apa-apa karena yang jelas penjelasan saya akan membuatnya bingung. Tetapi saya lakukan saja new behavior generator sambil saya ajak ngobrol yang sebetulnya membenahi NLL nya ini (dari pre interview saya sudah menangkap dimana kelemahannya).

Pelajaran yang dapat anda petik sederhana saja. Hargai panca indera anda dan percayai apa yang diterima oleh panca indera sesuai batas kepekaan masing-masing tanpa memberikan persepsi atau asumsi apa-apa atau kalau kata Ary Ginanjar si bapak ESQ adalah zero mind. Ini melatih diri untuk ikhlas dan netral sehingga peristiwa seburuk apapun tidak tersusun dan memberatkan jiwa kita karena kita berkebiasaan selalu memaknai negatif. Dalam bahasa Al Quran ya khusnuzh zhon, alias berbaik sangka sajalah. Meskipun masalah psikis dapat dibenahi namun alangkah baiknya dicegah dengan cara selalu berusaha berbaik sangka. Jika anda masih ngotot mempertahankan mindset lama anda bahwa berbaik sangka itu sulit dilakukan, mungkin perlu mencontoh si Badramandawata; butakan saja mata anda. Selesai.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s