Knowing Other Is Wisdom, Knowing Self Is Enlighment

Seorang bijak pernah mengatakan, “memahami orang lain adalah suatu kebijaksanaan, namun memahami diri sendiri adalah pencerahan”.

Saya menulis catatan ini di ketinggian jelajah 37.000 kaki di dalam pesawat saat perjalanan pulang dari Bandung menuju ke Palembang. Salah satu pengalaman berharga yang saya dapat ketika di Bandung adalah bertemu dengan seorang ‘master’ yang telah lama saya niatkan untuk bisa belajar dan menggali ilmu langsung dari beliau. Alhamdulillah, ternyata asumsi saya tidak meleset, beliau orang yang memiliki kapabilitas luar biasa dalam mengajar dan memiliki sikap yang low profile. Dari beliau saya mempelajari banyak hal termasuk bagaimana melakukan terapi psikis untuk penyakit berat seperti kanker, diabetes dsb. Selama perjalanan udara ini pesawat yang saya tumpangi kerap berguncang-guncang akibat dari cuaca yang kurang bersahabat.

Sebenarnya bagi kebanyakan teman-teman mungkin bukanlah suatu hal yang istimewa menumpang sebuah pesawat. Jangankan bepergian di dalam negeri, keluar negeri pun mungkin sudah sering. Namun yang membuat saya terpancing untuk menulis catatan ini adalah kondisi di pesawat ini mengingatkan saya pada awal-awal saya menekuni komputer secara otodidak 7 tahun lalu. Di saat ada waktu luang iseng-iseng saya memainkan game komputer – yang saya sukai saat itu adalah Flight Simulator yang saya dapat dari seorang teman di Sorong-. Game ini sangat mengasyikkan dimana kita harus berperan sebagai pilot yang menerbangkan pesawat mulai dari take off, mounting, taxi hingga landing. Lucunya, saya tidak pernah berhasil mendaratkan pesawat dengan benar sehingga selalu crash. Kalau sudah kesal kadang saya sengaja menabrakkan pesawat tersebut ke hanggar dan game over😀

Meskipun saya tidak pernah berhasil mendaratkan pesawat dengan benar namun saya berhasil menemukan kenyataan bahwa memang saya tidak berbakat jadi pilot dan untuk menjadi seorang pilot itu memerlukan keterampilan dan mental sebagai pilot. Untuk mendaratkan pesawat, pilot harus cermat dalam mengukur arah dan kecepatan angin. Selain itu, yang menjadi kesulitan saya adalah bagaimana menurunkan kecepatan pesawat hingga kecepatan aman untuk landing sembari menurunkan ketinggian dari jarak tertentu dengan tetap menjaga pesawat dalam posisi ‘level’ yang tentunya pesawat tidak menukik tetapi mendarat dengan roda belakang terlebih dahulu. Bagi saya itu susahnya minta ampun. Pilot, yang meskipun juga sepandai-pandai tupai melompat adakalanya jatuh juga. Walau jam terbang tinggi namun adakalanya karena faktor tertentu yang mungkin saat itu sengaja atau tidak sengaja diabaikan sehingga terjadi kecelakaan. Jika ada berita tentang kecelakaan pesawat, saya tidak pernah mau menghakimi karena yakin, tidak semua orang mampu menerbangkan pesawat dan meskipun mampu, fakta tentang human error dan factor x akan selalu ada.

2 minggu yang lalu, Maera anak saya bagi raport hasil mid semester. Alhamdulillah nilai-nilainya memuaskan dan masuk 5 besar. Hanya satu saja, dibandingkan nilai-nilai mata pelajaran yang lain matematikanya paling jelek, cuma dapat 68. Apakah saya merasa terganggu? Tidak. Bahkan saya mengkondisikan agar Maera tidak merasa terganggu dengan satu nilai yang 68 itu. Saya belum mau anak saya ikut kursus matematika dan sebagainya. Kalau pun ada, paling kursus mengaji karena usianya sudah 6 tahun dan target saya ketika usianya 7 tahun dia sudah bisa baca Al Quran. Bukan saya menyepelekan matematika, yang saya jaga adalah kondisi psikologis anak saya yang menurut saya itu jauh lebih penting. Berbeda dengan belajar mengaji yang dalam kacamata saya mengaji itu sama dengan mempelajari bahasa. Bahasa adalah kebutuhan yang mendasar, jika anda mau berkomunikasi tentu membutuhkan bahasa sehingga apa yang dimaksudkan dapat dimengerti oleh komunikan anda.

Mengaji adalah bahasa Al Quran. Saat anda sholat, affirmasi yang anda sebutkan semua berbahasa Al Quran. Jika anda tidak mengerti bahasanya, bagaimana efek dari sholat tersebut dapat berpengaruh bagi psikis anda? Allah tentu memahami bahasa apa pun bahkan apa yang terbersit di dalam hati. Tetapi kita kan tidak, karena sejatinya sholat sendiri berisi penanaman affirmasi-affirmasi diri melalui doa-doa yang kita ucapkan dalam bahasa Al Quran tersebut (note; saya tidak menyebutnya dalam bahasa Arab). Ajaran Nabi Muhammad, anak mulai sholat ketika usia 7 tahun, sebanding dengan ajaran Dalai Lama bahwa manusia harus mulai meditasi sejak usia 8 tahun. Mengapa demikian? Karena pada usia tersebut pembentukan faktor kritis telah dimulai dan makin menebal hingga usia 13 tahun. Setelah usia tersebut, faktor kritis sudah terbentuk sempurna. Jika sudah lewat dari usia tersebut, maka upaya yang dilakukan untuk menanamkan kebiasaan baik apapun perlu upaya yang lebih intens.

Kembali ke persoalan si matematika ini tadi. Semua pelajaran yang diterima di sekolah pada dasarnya penting. Namun kita pun harus bijak memilah mana yang menjadi bidang keunggulan putra-putri kita dan mana yang menjadi kelemahannya. Yang menjadi kelemahannya biarlah paling tidak cukup melewati passing grade saja, dan anak tidak merasa tertekan untuk fokus pada bidang kelemahannya. Jauh lebih baik jika si anak diajak fokus pada bidang keunggulannya, dan tentunya si anak akan merasa jauh dihargai, percaya diri, dicintai dan diterima apa adanya. Teori dari Howard Gardner menyebutkan bahwa manusia memiliki 8 jenis kecerdasan, namun subjektif pada masing-masing individu biasanya dominan pada satu atau lebih kecerdasan tertentu dan lemah pada jenis kecerdasan yang lain. 8 jenis kecerdasan itu adalah :

  • Kecerdasan logis-matematis. Mereka dengan keunggulan kecerdasan ini dapat belajar dengan baik melalui komputasi, menghitung, grafik, membandingkan dan mengklasifikasi.
  • Kecerdasan spasial. Mengacu pada pengertian yang tepat tentang ruang,  visualisasi, dan kemampuan untuk menunjukkan perasaan. Mereka berpikir dalam gambar dan diagram. Mereka dapat belajar dengan baik melalui melukis, menggambar, menonton film, ilustrasi, pemetaan dan visualisasi.
  • Kecerdasan bahasa / linguistik. Orang yang kecerdasan bahasanya kuat menyukai bermain dengan kata-kata, menikmati membaca, diskusi dan menulis. Banyak orang-orang hebat dan terkenal menjadi penulis karena mereka mengetahui keunggulan mereka di bidang ini dan mengembangkan dengan baik kecerdasan yang mereka miliki.
  • Kecerdasan interpersonal. Orang dengan kecerdasan ini sadar dan mampu membedakan antara emosi orang lain, niat, motivasi dan kemampuan indrawi. Ini termasuk ekspresi wajah, suara dan gerakan kepekaan, untuk mengidentifikasi hubungan yang berbeda dengan sindiran – sindiran dan kemampuan untuk menyarankan tanggapan yang sesuai.
  • Kecerdasan intrapersonal. Orang yang cerdas secara intrapersonal lebih mengacu pada pengetahuan diri, dan mengukur pada kapasitas yang tepat untuk bertindak secara bijaksana. Mereka biasanya menyadari batin, emosi, niat, motivasi, temperamen, dan keinginan, serta kemampuan untuk disiplin diri, pengetahuan diri dan harga diri
  • Kecerdasan natural / alam. Orang – orang ini  pandai mengamati alam, mengidentifikasi kapasitas fenomena alam, tetapi juga bisa berhubungan baik dengan alam. Mereka dapat belajar dengan baik melalui pengamatan, membandingkan, klasifikasi, menemukan tantangan dan pengalaman dari alam.
  • Kecerdasan fisik, belajar melalui sensasi tubuh dan dapat belajar dengan baik melalui pengalaman langsung, seperti drama, tari, dan bermain peran. Orang yang unggul dalam bidang ini bisa jadi atlet atau penari/pemain peran.
  • Kecerdasan musikal. Orang yang mempunyai kecerdasan musik mengacu pada deteksi, identifikasi, perubahan dan kemampuan untuk mengekspresikan musik. Kecerdasan ini mencakup ritme, pitch, melodi atau sensitivitas suara . Mereka biasanya punya suara yang bagus dan dapat dengan mudah mengidentifikasi apakah iramanya tepat. Keunggulan di bidang ini membuat seseorang dapat menjadi musisi yang hebat.

Jika ada teman yang bertanya “Om, gimana caranya menterapi anak saya supaya mau belajar matematika? Saya sudah ikutkan kursus kemana-mana dan diterapi oleh banyak orang mulai dari orang pintar, kyai, psikolog, hipnoterapis, grafolog dan lain-lain, konseling sama gurunya juga hampir tiap minggu tapi tetap aja nggak ada perubahan”.

Jawab saya santai “minum tolak angin saja”.

“Maksudnya om?”

Itu yang perlu diterapi adalah orangtuanya agar mau bersyukur, menerima diri si anak, menghargai dan mencintai sebagaimana adanya si anak, juga tidak kalah penting mau memperbaiki pendekatan dan cara berkomunikasi pada anak. Si anak pasti akan berubah, karena faktor induksi-nya (orang tua) sudah berubah.

Kita tidak dapat menyamaratakan manusia. Selain bakat atau bidang keunggulan, setiap manusia unik dan akan bertindak sesuai passion yang mereka miliki. Ada seorang teman yang dulu kuliahnya di teknik elektro. Namun belakangan menyadari bahwa ternyata passion terkuatnya justru dalam hal masak-memasak dan berbisnis. Ketika ini dipadukan, wah.. sukses dan membuat hidupnya bersemangat luar biasa. Ketika sudah sampai di titik ini, saya yakin orangnya akan mengerti bahwa nilai-nilai akademik yang ia dapat saat kuliah hampir tidak berarti apa-apa kecuali sebagai pengalaman berharga bagi dirinya saja. Kesimpulannya, manusia dapat hidup bukan karena nilai akademik semata, melainkan passion kuat yang ia miliki dan ikuti untuk diwujudkan. Pelajaran yang saya dapat, jangan sekali-kali memaksa katak untuk terbang atau mengajari unta untuk berenang di laut. Semua orang punya hidupnya sendiri termasuk anak kita, kita hanya perlu mengajaknya menemukan apa yang menjadi bidang keunggulannya dan kelak mengarahkannya sesuai passion terkuat yang ia miliki.

And the last is; memahami diri orang lain adalah bijaksana, namun memahami diri sendiri akan membawa anda ke suatu pencerahan diri. Jika pada hari ini anda merasa tidak nyaman dengan kondisi anda saat ini misalnya dalam menggeluti bidang profesi anda sekarang maka perlu pertanyakan dalam diri latar belakang apa yang memotivasi anda untuk terjun di dalamnya. Gunakan kecerdasan intrapersonal anda untuk menyelam ke dalam diri dan temukan inner voice untuk mendapatkan jawaban. Ingat, anda bukan pohon yang tidak memiliki kehendak bebas dan kemampuan untuk berpindah. Ada banyak teknik NLP seperti 6 steps reframing juga berbagai teknik lain yang akan sangat membantu untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan menemukan solusi untuk menuntaskan kemelut di dalam diri. Ya, NLP adalah ilmu tentang perilaku dan metodologi yang diikuti serangkaian teknik untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonal ini. Pastikan diri anda hadir pada 1 – 2 Juni di NNLP Practitioner Workshop yang akan difasilitasi oleh Dr. Iwan D Gunawan. Info lengkap, hubungi saya. Terimakasih.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s