Rumah Megahmu Disini Hanyalah Sebagai Gubug Penunggu Sawah

Saya menulis catatan ini sebagai jawaban dari pertanyaan sekian banyak sms dan email yang masuk ke inbox saya mengenai kecemasan. Dan ajibnya lagi, setiap kecemasan yang dikeluhkan tersebut selalu berkaitan dengan kematian yang mana pada inti kecemasan tersebut kurang lebih sama, mengalami suatu jenis anxiety bahkan panic disorder yang dihantui perasaan takut mati.

Mengapa mereka mengirimkan sms dan email seperti itu? Mulanya karena artikel yang saya unggah di blog pribadi saya tentang bagaimana mengobati kecemasan dan serangan panik yang dapat saudara-saudara lihat di link berikut https://hujairin.wordpress.com/2012/04/25/bagaimana-mengobati-kecemasan-general-anxiety-dan-serangan-panik-panic-attacks/#comment-38. Semenjak saat itu banyak pertanyaan yang berkaitan dengan cara mengobati kecemasan dan serangan panik ditujukan kepada saya. Hanya saja yang sangat menggelitik perasaan saya adalah setiap pertanyaan selalu terkait dengan perasaan takut mati.

Perasaan takut mati sendiri adalah hal yang wajar bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya. Ini adalah dorongan dari naluri bawah sadar manusia untuk mempertahankan entitas kehidupannya. Tidak ada yang tidak takut mati sekalipun pasukan kamikaze sekalipun dalam menjalankan aksinya pasti terbersit perasaan bagaimana mereka setelah mati. Namun kematian sendiri adalah hal yang mutlak tak terhindarkan, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Jadi pertanyaannya sekarang adalah bagaimana mempersiapkan kematian tersebut dengan tenang dan nyaman.

Kematian adalah keniscayaan, tidak ada satu jiwa pun mampu menghindarinya. Sedikit sekali yang mau menerimanya- kalau enggan berkata bahwa semua orang enggan meninggalkan hidup ini. Semua berkata dalam hatinya seperti ucapan Chairil Anwar, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi..”. Al Quran pun telah mengungkapkan dengan kalimat serupa sebelumnya “Setiap seorang di antara mereka meninginkan seandainya dia diberi umur seribu tahun..” (QS. Al Baqarah : 96). Bahkan bukan hanya seribu tahun, yang diinginkan adalah kekekalan selama-lamanya. Keinginan inilah yang dimoderasi oleh Iblis untuk menipu Adam dan Hawa sehingga mereka berdua memakan buah pohon yang dinamai Syajarat Al Khuld (Pohon Kekekalan, QS. Thaha : 103).

Keinginan hidup kekal tersebut antara lain disebabkan umur manusia tidak sepanjang harapan dan cita-citanya. Semua orang mati membawa keinginannya karena keinginan manusia tidak pernah berakhir. Kalaupun ini terpenuhi, muncul hal lain yang lebih mendesak. Maut menjadi bahasan filsafat dan uraian agama. Bahkan, filsuf Amerika kontemporer, Will Durrant, menegaskan bahwa maut adalah asal usul semua agama. “Boleh jadi kalau tidak ada maut, Tuhan tidak akan wujud di dalam benak kita”, begitulah tulisnya di dalam The Story of Civilization.

Memaknai kematian setelah kehidupan yang kita jalani adalah bagaikan memaknai dan merayakan peristiwa pulang. Pengalaman hidup sehari-hari mengajarkan bahwa acara pulang selalu menarik dan menimbulkan gairah. Coba rasakan kembali ketika masih duduk di bangku sekolah, bel pulang selalu menjadi instrumentalia yang terindah, demikian pula saat pulang kerja, pulang belanja, pulang mudik, pulang haji dan peristiwa-peristiwa pulang lainnya selalu menggairahkan. Mengapa demikian? Banyak alasan yang dapat kita kemukakan, salah satunya adalah kita selalu rindu tempat asal dan ingin merasakan kembali masa lalu yang mendatangkan damai dan tentram.

Dunia ini ibarat tempat bercocok tanam sedangkan masa panennya di akhirat nanti. Jadi sesungguhnya rumah megah yang telah kita tempati selama ini tak ubahnya bangunan gubug penunggu sawah karena suatu saat mesti kita tinggalkan. Dunia ini tempat bertanam, bukan rumah kita yang asli dan permanen. Kita semua milik Allah, berasal dariNya dan suatu saat akan kembali padaNya. Mengingat Allah tempat kembali, mestinya kematian menjadi peristiwa yang menggairahkan karena Dia Maha Kasih dan Maha Sayang. Kalau seseorang tidak mau kembali kepadaNya lalu mau kembali kemana?

Jadi betapa repotnya seseorang yang membenci atau menghindarkan kematian yang tak mungkin terhindarkan. Kerepotan ini menjadi konflik ego personality di dalam pikiran bawah sadar terdalam sehingga menimbulkan masalah kecemasan yang intens dan dapat berakibat pula menjadi penyakit pada tubuh fisik. Permasalahan yang ditinggalkan setelah kepergian kita misal bagaimana usaha yang telah dirintis, bagaimana nasib keluarga kita dan sebagainya tergantung bagaimana kita mengimani / mempercayai bahwa segala sesuatu sudah dituliskan Allah dalam skenario semesta ini. Allah selalu menjanjikan kecukupan, bagi orang-orang yang percaya. Yang terpenting adalah bagaimana kita ikhlas ketika saatnya harus kembali. Berbahagialah mereka yang memiliki visi, tujuan dan keyakinan jelas bahwa Allah adalah tempat kembali dan mempersiapkan bekal untuk kepulangannya sehingga peristiwa kematian benar-benar dihayati sebagai datangnya hari panen atau wisuda.

“When you were born, you cried and world rejoiced. Live in such a manner then when you die, the world would cry and you rejoice”.

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s