Berbahasa Bocah Kepada Anak

Anda mempunyai seorang anak yang baru berusia 1-3 tahun? Pasti anak-anak itu sedang lucu-lucunya lucu, terutama saat mereka sedang belajar berbicara. Mulai usia 6 bulan tampak anak sudah mulai ‘babbling’ dan berbicara sesuai dengan apa yang didengarnya dari lingkungan sekitar, tentunya apa yang didengar adalah menurut pemahamannya.

Ketidakmampuan mereka mengucapkan kata secara benar seringkali terlihat sangat lucu, misalnya suster jadi ncus, takut menjadi atut. Memang sangat lucu sehingga tanpa sadar, orang tua maupun pengasuh anak bahkan orang yang ada di sekelilingnya seringkali menirukan bahasa yang dibuat oleh anak. Hal ini tentulah memperkuat kemampuan berbahasa anak sehingga anak akan berpikir bahwa bahasa yang dihasilkan adalah bahasa yang benar karena lingkungan sekitarnyapun memiliki bahasa yang sama dengan mereka.

Banyak orang tua yang datang karena anaknya belum dapat berbicara pada usia 3 tahun, ada pula anak yang bahasanya sangat tidak jelas pada usia 2.5 tahun. Hal ini sangat memprihatinkan, sehingga ketika orang tua membawanya kepada para ahli, pastilah diminta untuk menjalani treatment berupa terapi wicara, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah kurangnya stimulasi yang didapat oleh anak atau lingkungan yang membuat seorang anak tidak dapat berbicara dengan jelas.

Lucu memang kelihatannya seorang bocah yang cadel mengucapkan kata-kata, namun apakah terpikir bahwa anak tersebut akan mengalami kesulitan dalam mengucapkan huruf R hanya karena banyak orang tua yang senang ikut-ikutan berbicara dalam bahasa si anak.

“ncus, iu agus ya eta api na,” kata si kecil menyatakan keinginannya melihat kereta api. Karena si kereta belum juga lewat, maka si ibu menjawab, “Eta api um ewa, unggu ya.” Ini hanyalah salah satu contoh komunikasi dalam bahasa si anak. Tidak dapat dipungkiri, tidak sedikit yang melakukan hal seperti ini.

Dalam percakapan lain,seorang anak merengek ingin ikut ibunya pergi, lalu dia berkata “ai au itut ma gi”, lalu si ibu kembali menanggapi anak dengan mengatakan ‘ai ia oleh itut ma,ai beyi bayon jay a?”.

Betulkah percakapan seperti itu ? Betul tapi bukan BENAR. Kebenaran yang mutlak adalah anak perlu diajarkan pola berkomunikasi yang benar dan tepat bukan benar berdasarkan kemampuan yang dapat diraih anak tetapi benar menurut pola komunikasi orang dewasa. Hal ini akan membuat anak lama kelamaan mengikuti pola komunikasi yang sebenarbenarnya, sehingga ia akan mengkoreksi sendiri kekeliruan yang dibuatnya. Begitupula ketika mendongeng, pengasuh atau orang tua boleh berbicara dalam bahasa boneka tetapi secara jelas (tidak cadel). Anak-anak yang kurang stimulasi dari lingkungan, jarang diajak berkomunikasi ataupun anak yang mengalami kebingungan komunikasi karena tidak mengetahui bahasa yangbenar, akan mengalami kesulitan dalam berbicara atau bahkan keterlambatan dalam mengucapkan huruf-huruf tertentu. Jika pola seperti ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin anak akan mengalami gangguan bicara atau disfasia.

Oleh karena itu perlu memahami tingkat perkembangan bahasa anak dan berilah stimulasi sejak dini, sejak dalam kandungan, sejak ia dilahirkan, karena ketika seorang anak sudah mampu menerima informasi dari panca inderanya, maka iapun mulai dapat menyerap informasi apapun yang ada di sekitarnya dengan sangat cepat.

sumber : http://bunda-lucy.com/berbahasa-bocah-pada-anak/

About hujairin

subconscious explorer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s