Bank Waktu

Bayangkan jika sebuah bank memberikan anda uang sebesar $86.400 setiap hari dan jumlah uang tersebut harus dihabiskan dalam satu hari. Setiap sore, uang yang tersisa akan dihapuskan dari account anda jika anda gagal untuk menggunakannya sepanjang hari. Apa yang anda lakukan? Tentu saja mempergunakan uang tersebut setiap sen yang ada.

Kita semua memiliki bank seperti itu. Namanya WAKTU. Setiap pagi, anda diberikan waktu 86.400 detik dan setiap malam dicatat, sebagai kehilangan jika anda gagal untuk menginvestasikan dengan tujuan baik. Jumlah tersebut tidak akan dipindahbukukan untuk keesokan harinya, juga tidak dapat dilakukan penarikan lebih dari jumlah yang telah ditentukan. Setiap hari akan dibuka sebuah account baru untuk anda dan setiap malam account tersebut akan dihapuskan. Jika anda gagal menggunakan simpanan pada hari itu, anda akan kehilangan. Hal ini tidak akan pernah kembali.

Tidak akan pernah ada penarikan untuk hari esok. Anda harus hidup pada saat ini, untuk simpanan hari ini investasikan hal ini untuk memperoleh dari investasi itu berupa kesehatan, kebahagiaan dan keberhasilan yang sepenuh-penuhnya.

Untuk menyadari nilai satu tahun, tanyakan pada seorang pelajar yang gagal naik kelas.

Untuk menyadari nilai satu bulan, tanyakan pada seorang ibu yang melahirkan bayi prematur.

Untuk menyadari nilai satu minggu, tanyakan pada editor dari majalah mingguan.

Untuk menyadari nilai satu jam, tanyakan pada seorang kekasih yang menanti untuk bertemu.

Untuk menyadari nilai satu menit, tanyakan pada seseorang yang ketinggalan kereta api.

 

Iklan

Berbahasa Bocah Kepada Anak

Anda mempunyai seorang anak yang baru berusia 1-3 tahun? Pasti anak-anak itu sedang lucu-lucunya lucu, terutama saat mereka sedang belajar berbicara. Mulai usia 6 bulan tampak anak sudah mulai ‘babbling’ dan berbicara sesuai dengan apa yang didengarnya dari lingkungan sekitar, tentunya apa yang didengar adalah menurut pemahamannya.

Ketidakmampuan mereka mengucapkan kata secara benar seringkali terlihat sangat lucu, misalnya suster jadi ncus, takut menjadi atut. Memang sangat lucu sehingga tanpa sadar, orang tua maupun pengasuh anak bahkan orang yang ada di sekelilingnya seringkali menirukan bahasa yang dibuat oleh anak. Hal ini tentulah memperkuat kemampuan berbahasa anak sehingga anak akan berpikir bahwa bahasa yang dihasilkan adalah bahasa yang benar karena lingkungan sekitarnyapun memiliki bahasa yang sama dengan mereka.

Banyak orang tua yang datang karena anaknya belum dapat berbicara pada usia 3 tahun, ada pula anak yang bahasanya sangat tidak jelas pada usia 2.5 tahun. Hal ini sangat memprihatinkan, sehingga ketika orang tua membawanya kepada para ahli, pastilah diminta untuk menjalani treatment berupa terapi wicara, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah kurangnya stimulasi yang didapat oleh anak atau lingkungan yang membuat seorang anak tidak dapat berbicara dengan jelas.

Lucu memang kelihatannya seorang bocah yang cadel mengucapkan kata-kata, namun apakah terpikir bahwa anak tersebut akan mengalami kesulitan dalam mengucapkan huruf R hanya karena banyak orang tua yang senang ikut-ikutan berbicara dalam bahasa si anak.

“ncus, iu agus ya eta api na,” kata si kecil menyatakan keinginannya melihat kereta api. Karena si kereta belum juga lewat, maka si ibu menjawab, “Eta api um ewa, unggu ya.” Ini hanyalah salah satu contoh komunikasi dalam bahasa si anak. Tidak dapat dipungkiri, tidak sedikit yang melakukan hal seperti ini.

Dalam percakapan lain,seorang anak merengek ingin ikut ibunya pergi, lalu dia berkata “ai au itut ma gi”, lalu si ibu kembali menanggapi anak dengan mengatakan ‘ai ia oleh itut ma,ai beyi bayon jay a?”.

Betulkah percakapan seperti itu ? Betul tapi bukan BENAR. Kebenaran yang mutlak adalah anak perlu diajarkan pola berkomunikasi yang benar dan tepat bukan benar berdasarkan kemampuan yang dapat diraih anak tetapi benar menurut pola komunikasi orang dewasa. Hal ini akan membuat anak lama kelamaan mengikuti pola komunikasi yang sebenarbenarnya, sehingga ia akan mengkoreksi sendiri kekeliruan yang dibuatnya. Begitupula ketika mendongeng, pengasuh atau orang tua boleh berbicara dalam bahasa boneka tetapi secara jelas (tidak cadel). Anak-anak yang kurang stimulasi dari lingkungan, jarang diajak berkomunikasi ataupun anak yang mengalami kebingungan komunikasi karena tidak mengetahui bahasa yangbenar, akan mengalami kesulitan dalam berbicara atau bahkan keterlambatan dalam mengucapkan huruf-huruf tertentu. Jika pola seperti ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin anak akan mengalami gangguan bicara atau disfasia.

Oleh karena itu perlu memahami tingkat perkembangan bahasa anak dan berilah stimulasi sejak dini, sejak dalam kandungan, sejak ia dilahirkan, karena ketika seorang anak sudah mampu menerima informasi dari panca inderanya, maka iapun mulai dapat menyerap informasi apapun yang ada di sekitarnya dengan sangat cepat.

sumber : http://bunda-lucy.com/berbahasa-bocah-pada-anak/